Selasa, 16 Agustus 2016

"17 | 71"

Sekarang ini di museum nasional, lagi ada pameran lukisan dari koleksi istana negara. 
Lukisan ini kebanyakan dikoleksi oleh Pak Soekarno saat masih menjabat sebagai Presiden Indonesia dahulu kala.


Ada beberapa lukisan yang gue suka.
Lukisan pertama bernuansa hitam. Menunjukkan suasana Malang malam hari.
Deep. Dark. Bold. Apapun itu.
Rasanya Malang memang setegas itu ketimbang beberapa lukisan lain yang warnanya lebih sendu. 


Kemudian ada lukisan yang rasanya lebih proporsional ketimbang beberapa lukisan lain.
Gue suka karena orang-orangnya dilukis dengan konsep semacam baby doll gitu, jadi semua orangnya dibikin macam boneka-boneka kecil yang seukuran. 


Setelah melihat secara keseluruhan, gue rasa ciri khasnya pelukis Indonesia jaman dulu lebih suka melukis realism dengan kuas ukuran besar. Juga melukis dengan warna-warna yang lebih tegas dan saling membentuk garis menabrak.


Sedang pelukis luar, sepertinya lebih detil dengan kuas ukuran kecil, dan warna-warna yang saling membaur sehingga terkesan lebih pastel dan lembut. 


Ada sebuah lukisan yang menggunakan Pak Soekarno sendiri sebagai model untuk melengkapi bagian gambar lukisannya. Sayangnya lukisan ini sudah rusak dan patah dibagian ujung kanannya, sehingga lukisan ini dibuat ulang untuk tetap mengabadikan momen tersebut. 


Kebanyakan lukisan yang dipamerkan berbicara mengenai kehidupan saat peperangan berlangsung. Seperti lukisan di bawah ini, yang kalau tidak salah juga merupakan lukisan ulang (atau mungkin terinspirasi) dari lukisan lain yang mirip-mirip. 


Lukisan di bawah ini rasanya lebih damai. Lebih sejuk. Lebih lega.
Warnanya lebih lembut dan tidak terkesan dipaksakan. Lebih bersih rasanya.
Lebih hangat karena saturasinya sedikit lebih tinggi.

Saat melihat lukisan ini, gue merasa sedang berada di kampung halaman saat senja mulai turun ke ufuk barat.
Tak terasa lagi kesan peperangan yang harus diperjuangkan.
Yang tersisa adalah kehidupan yang tenang dan tentram.
Sehingga mereka tak perlu lagi terburu-buru menikmati senja. 


Ah, sudahlah.
Lagipula, semua lukisan dibuat untuk dinikmati dengan indra penglihat, bukannya mulut, atau jari dalam konteks blog.

 Banyak hal yang luput dari perhatian gue dalam setiap lukisan. 
Gue kurang pintar menilai dan membahasakan apa yang gue pikirkan.

Tapi mungkin, jika ingin merasa apa yang gue rasa,
baiknya datang dan hadir ketempat yang gue hadiri.

Karena ...

"Kadang, kita (hanya) melihat apa yang ingin kita lihat"


ps : sorry for bad quality pictures. 
taken with low lighting, and low quality camera.

FINE and FUN

Fine dining adalah (noun)UK/ˌfaɪn ˈdaɪ.nɪŋ/US /ˌfaɪn ˈdaɪ.nɪŋ/ a style of eating that usually takes place in expensive restaurants, where especially good food is served to people, often in a formal way.-dictionary.cambridge.org-


Fine dining adalah sebuah konsep dimana makan malam disajikan dengan cara yang formal, dengan lebih teratur dengan tata cara makan yang banyak.

Menurut gue, itu melelahkan. Heu~
Makan dengan alat makan yang berbeda untuk tipe makanan yang berbeda.
Dengan tata cara yang sangat ketat, dan hal-hal lain yang repot untuk dihafalkan.
Mungkin itu salah satu alasan kenapa gue rasa gue tidak ingin mencoba fine dining.


Lalu, pada sebuah kesempatan, gue datang ke sebuah tempat makan yang masih belum beroperasi, di daerah Kemang
Namanya Nusa.
Sangat Indonesia.
Akan launching soft opening pada tanggal 17 Agustus 2016.


Tempatnya tertutup, nyaman, dan terkesan hangat.
Nuansa putih, hitam, coklat, dan kuning emas memenuhi seluruh penjuru ruangan.
Sederhana.
Unik.

Yang gue suka, tempat itu punya cerita.
Semua perabotnya berasal dari koleksi sebuah rumah di zaman 90-an.
Peralatan makannya (dan masaknya) didatangkan langsung dari berbagai daerah pengrajin di Indonesia.
Kursi, meja, lemari, sendok. Semua.

Menu makanan yang disajikan berasal dari ulikan sang Chef sendiri.
Dengan bahan makanan yang dibeli di seluruh penjuru Indonesia.

Yang menyenangkan, 
setiap kali makanan disajikan, pramusaji akan menambahkan cerita mengenai deskripsi singkat makanan, beserta asal bahan makanan tersebut. 

Gue menyimak dengan baik cerita dari mas-masnya, meski sesaat setelahnya langsung lupa apa katanya.

Selain itu, gue mendapat kesempatan ekstra untuk ikut tur keliling tempat itu.
Ada taman untuk makan lebih santai. Ada ruang tunggu. Ada gudang sebagai tempat fermentasi. Bahkan ada ruang bawah tanah juga! 
Bayangkan, dimana lagi di Indonesia ini rumah yang memiliki akses ke bawah tanah!
Well, mungkin ada. Tapi gue sih belum pernah lihat. Haha  




  

Namanya kecombrang
Desertnya ada gelato pandan, bubur, olahan ubi kuning dan ungu, juga kripik ubi
Gue merasa semua makanan yang disajikan ramah lidah orang Indonesia.
Meski nggak semua makanan gue foto, tapi rasa senangnya masih nyisa di memori gue. :) 



"If you want to make a friend, go to someone's house and eat with him.
The people who give you their food give you their heart."
- Cesar Chavez -

Selasa, 09 Agustus 2016

Saat ditinggal pergi

Gue gabisa masak...
.
.
"Halo nak, udah mandi? ... Kok belum? ... Iya, mandi dulu ya nak. Ibu pulang bawa kue. ... Iya, daah"
.
.
.

Percakapan serupa di atas beberapa kali gue dapati pada seorang ibu (yang juga seorang wanita karir) pada anaknya di telpon saat sedang berada di atas KRL commuter line mengarah pulang. 


Mendengar percakapan itu, gue jadi senyum-senyum sendiri di atas krl.
Selama seminggu, mama gue pergi ke luar kota untuk menghadiri pernikahan keponakannya, yang adalah sepupu gue. (Congrats Bang, anw...)

Karena itu, akhirnya tanggung jawab mengurus rumah secara tidak langsung diserahkan kepada gue. Mengurusi makan pagi, siang, dan malam untuk adik-adik gue. Mencuci piring, baju, menyetrika dan beberes rumah. Menemani adik gue belajar dan membantu mereka mengerjakan tugas. Ditambah lagi tugas gue sendiri yang sebenarnya belum sebegitu banyak sih.

Dengan bekal kemampuan mengurus rumah yang apa adanya, gue menjadi kapten selama seminggu.
Mengatur waktu dengan sedemikian efektif.
Membagi tugas dengan cukup tepat sasaran.

Makanan olahan siap masak gue pernah gosong.
Gue juga sering kena minyak panas, bahkan sampe masuk-masuk ke mata.
Gue (berusaha) bangun pagi, dan tidur paling malam.
Gue berusaha memastikan semua baik-baik saja sebelum seisi rumah pergi tidur. 
.
.
.
Gue gabisa masak.
Dan masih gabisa masak.
Tapi rasanya, gue jadi lebih tough dalam mengurus rumah.
Rasanya...

ps : Dan gue berhasil memasak telor dengan variasi baru! B)

Jumat, 29 Juli 2016

hati hati dengan kata...

Hati-hati dengan kata.
Kadang kata adalah tanpa makna, 
namun kadang, mereka akan terdengar seperti janji.

Kadang kamu yang tidak bermaksud,
tapi mereka yang berharap.

Kadang kamu yang menganggap angin lalu,
namun mereka yang berpegang pada asa.



Lalu, mereka membenci
pada kamu yang tidak pernah tau alasannya.

demikian juga nasihat ...

Hati-hati ketika menjual sepatu pada orang lain. 
Tidak semua sepatu cocok dipakai untuk semua kegiatan, meskipun ukurannya pas.


Mereka yang tak tahu mode,
akan memakai apa saja yang ada.

Dan apa saja yang ditawarkan,
 oleh mereka yang terlihat lebih meyakinkan...



Demikian juga nasihat,
Tidak semua nasihat cocok dipakai untuk semua masalah, meskipun rasanya pas.

Selasa, 05 Juli 2016

Kasih atau enggak yaa?

“Jangan dikasih, nanti dia males.”
.
“Ya enggaklah. Kan dia memang butuh. Dia juga nggabisa ngapa-ngapain kan. Lu juga ngga miskin kalo ngasih beberapa ribu. Kecuali kalo yang muda-muda yang masih kuat, yang asal nyanyi tuh.”
.
.
.

Sering nggak sih terjadi konflik batin di hati kita waktu mau memberi uang ke pengemis di pinggir jalan? Kalo dikasih, takut mereka jadi males kerja. Kalo ngga dikasih, mereka kasihan punya disabilitas.


Lalu muncul pertanyaan di benak gue, “mereka kalo dikasih kerjaan mau nggak ya?”

Beberapa hari yang lalu, dalam forum tentang pendidikan yang gue ikuti, sekilas membahas tentang anak-anak lulusan Sekolah Luar Biasa yang susah mencari kerja. Kemudian, ada yang mengenalkan tentang platform kerjabilitas.com, tempat dimana para penyandang disabilitas bisa mendaftar dan mencari pekerjaan di situ.

.
Masalah pertama beres. 

Lanjut ke masalah kedua. Mereka-mereka yang sudah lanjut usia dan memiliki keterbatasan itu, apakah BISA mengakses platform tersebut seorang diri? 

Mereka bahkan buat makan aja susah, apakah mereka bisa punya smartphone, dan punya pulsa untuk beli kuota.
Mungkin itu hal yang mudah dan kecil buat kita. Tapi bagi mereka?

.
Jika saja ada orang-orang yang mau berbaik hati mengumpulkan database mereka-mereka itu, dan mendaftarkan mereka dan memfasilitasi mereka menggunakan platform tersebut.


Yah mungkin waktu kita yang biasa dipakai untuk ngomel-ngomel kepada mereka, bisa dipakai untuk mulai membantu mengakses platform tersebut.

“Wihh, gimana rasanya ketemu artis?”

Beberapa hari yang lalu, gue berkesempatan datang ke kediaman seorang Pejabat Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk buka bareng (sambil diskusi ringan-yang-tidak-ringan).