Rabu, 14 November 2012

talking to the moon

Hey, bulan
selamat malam semesta
:)
dengan senyum semanis ini, kalian pasti tahu 
hari ini gue sangat sangat senang
:D

ceritanya berawal dari ketika gue naik level,
dari mulai belajar jalan, hingga sekarang belajar memanjat.
tentu saja seperti tangga-tangga lainnya, tangga yang gue naiki juga sangat tinggi.
dan gue pun memanjat satu demi satu anak tangga dengan bersusah payah.

gue dulu sering banget ngerasa, Dia Yang Maha Agung selalu tak suka melihat gue naik.
saat gue sudah berada di titik yang lebih tinggi (sedikit) dibandingkan teman-teman gue,
Dia selalu setia menjatuhkan gue ke tingkat terbawah.
meski gue berusaha memanjat naik untuk menjadi lebih tinggi lagi,
tapi tetap saja, Dia tidak pernah lelah menjatuhkan gue setingkat lebih bawah dari pada yang lain.
 
tapi tahu nggak?
yang lucunya, setelah berkali-kali jatuh, gue baru nyadar sekarang.

sebenernya, Dia Yang Maha Tahu sedang membantu gue untuk tidak bermental tempe.
sebenernya, Dia Yang Maha Adil sedang membentuk gue untuk menjadi dua kali lipat dibanding mereka yang selalu melihat gue dari ketinggian.
sebenernya, Dia Yang Maha Pengasih selalu mengajarkan gue untuk bangkit kembali dan gak takut buat jatuh.

dan semesta,
gue baru menyadarinya hari ini
disaat Dia menjatuhkan gue dari anak tangga yang seharusnya gak gue naiki
disaat Dia mendorong gue untuk berani menaiki dua anak tangga sekaligus

dan disaat sekarang, detik ini, Dia tersenyum sambil mengapresiasi keberhasilan gue, dan memaafkan gue yang gak pernah bersyukur sebelumnya


belajar memanjat tak hanya tentang belajar naik menggapai yang lebih tinggi
tapi juga belajar tahan banting saat jatuh, 
dan siap mental untuk bangkit lagi

Jumat, 09 November 2012

apa salah semesta?

orang-orang kebanyakan menyalahkan semesta atas semua kesalahan mereka

ketika dikritik tidak produktif, mereka akan menyalahkan waktu yang sedikit
padahal hanya masalah mengatur waktu

ketika dikritik fotonya buram, mereka akan menyalahkan kamera yang goyang
padahal hanya masalah ketelatenan

ketika dikritik pelupa, mereka akan menyalahkan daya ingat mereka
padahal hanya masalah pengorganisasian memori

ketika dikritik penakut, mereka akan menyalahkan sekeliling yang terlalu banyak komentar
padahal hanya masalah persepsi otak masing-masing individu

ketika dikritik pemalas, mereka akan menyalahkan jejaring sosial dan kegiatan yang menumpuk
padahal hanya masalah kemauan

ketika dikritik terlalu kurang, mereka akan menyalahkan yang lain karena terlalu lebih
padahal hanya masalah kepercayaan diri
  
ya, selalu saja kita menyalahkan apa yang ada disekeliling kita.
baru saja gue melihat cerminan dari diri gue ada pada seorang yang so(k) cool.
apapun evaluasi negatif yang diberikan kepadanya akan di proyeksikan ke semesta.
padahal itu hanya soal penerimaan diri.

kita selalu tidak mau disalahkan.
kita selalu ingin dimengerti. 
kita selalu ingin dibenarkan dan didukung.

tapi kita tidak ingin diperbaiki.
kita membenarkan kekurangan kita sebagai alasan, padahal segala kekurangan itu bisa dihilangkan kalau kita punya kemauan.
ya, semua hanya soal kemauan dan (lagi-lagi) keberanian.

Kamis, 08 November 2012

melihat lebih luas

hari ini gue diajakin buat mengikuti sebuah kegiatan non formal yang diadakan oleh SPEKTRUM, UKM Fotografi di universitas gue.
awalnya rada mager juga kesananya, tapi ujung-ujungnya pergi juga.

kesan awal dari acara kecil itu adalah ngaret, orang-orangnya sangar, dan penuh asap rokok.
tapi, saat presentasi foto pertama dimulai, gue mulai tercengang.
tiba-tiba gue kembali ingat alasan gue dulu sangat ingin ikutan TNT.
dan gimana sekarang pasion gue udah berubah dari fotografi ke sinematografi.

hal-hal yang terlintas dipikiran gue adalah, "foto seperti ini nih yang ingin gue hasilkan",
atau "kalo aja gue bisa ngedit kayak gitu", atau "buset, dulu tuh gue juga sering foto-foto kayak gitu meskipun amatiran".
sekarang, pikiran itu ternyata cuman jadi wacana.

tapi entah kenapa ada rasa menggelitik yang mengingatkan gue untuk kembali menekuni fotografi. dan gue teringat alasan utama gue menyukai fotografi adalah :

kita bukan hanya mengabadikan sebuah moment yang memiliki makna, tapi kita juga bisa memaknakan sebuah objek yang absurd

Minggu, 04 November 2012

tentang semesta

aku gamau jadi seperti matahari
meskipun dia yang dengan sinarnya yang tetap
sinar tulus dan hangatnya yang tak pilih kasih
dia terlalu songong dengan sinarnya yang sangat kuat
bikin semuanya kepanasan

aku juga gamau jadi seperti awan
yang meskipun dia mau menahan kita dari panas
dia menutupi matahari disaat jemuran belum kering
dia ingin selalu jadi yang terdepan,
tapi dia terlalu cengeng
saat dia menangis, semua jadi dingin dan becek

aku pengen sih jadi seperti bulan
dia elok dan eksklusif
tapi, dia terlalu molek dan hanya mau muncul di waktu malam
dan dia sangat perhitungan untuk menampakkan dirinya yang bulat sempurna

tapi sepertinya, aku lebih ingin menjadi seperti bintang
dia ada dan tetap ada saat malam maupun siang
setia melihat dan memperhatikan kita,
meski sinarnya kalah kuat dari raja matahari
meski kadang dia tertutup ksatria awan tebal
dan meski kadang hanya menjadi dayang dari putri bulan
ya, dan dia tetap disana menanti kita untuk melihatnya

Sabtu, 03 November 2012

(lagi) tentang rasa

" salah nggak sih kalo gue tidak merasa apa yang harusnya gue rasa?"
"enggak, Lid. nggak ada yang salah dari me-rasa."
"iya, memang perasaan kan gabisa dipaksa"

tiap orang bisa saja merasa berbeda terhadap orang yang sama, terhadap situasi yang sama
tapi, kalau mau merasa, tak perlu harus merasa yang sama dengan apa yang mereka rasa

"kenapa (harus) aku, kak?"

"kalau kamu nemu uang, apakah akan kamu biarkan saja tergeletak? atau langsung kamu ambil? Memang sih awalnya pasti ada rasa takut. Tapi trus mikir dulu kan pastinya 'kalau ini jatuh, berarti bukan rejeki orang itu, tapi rejeki saya'. Nah, kalau kamu nggak ambil, berarti akan jadi rejeki orang lain."
-Seorang kakak-

Malam ini seperti biasa gue ngelakuin aktivitas yang melelahkan, tapi gue bertahan sampai akhir, disaat yang lain sudah pada rontok. Di akhir kegiatan pun gue masih saja diajak berpikir; kening berkedut, telinga mendengar, mata melihat, namun pikiran tak di tempat.


Susah menahan diri untuk tetap terjaga. Godaan ingin pulang sangat besar, tapi masih dapat dikalahkan oleh rasa penasaran. Saat akhirnya gue menangkap aura yang gak enak; beberapa pasang mata mengintai dengan tak sabar. Saking tak sabarnya, pasang-pasang mata itu seakan berbicara mengirimkan sinyal-sinyal yang tertangkap otak.

Bahkan hingga sekarang gue masih merasakan rasa takut yang amat sangat. perut gue serasa dipenuhi kupu-kupu. otak gue seakan merasa semua mimpi. dada gue masih saja berdesir tak percaya.

Dan benar saja, sedetik setelah gue membayar rasa penasaran gue, episodic buffer gue masih saja berputar. Susah menyatukan semua yang terjadi dalam waktu kurang dari 2 jam. Banyak. Sangat banyak yang gue dapet. Sangat banyak pemikiran yang membuat central executive gue bekerja keras. Tapi hasilnya, adrenalin gue meningkat; entah karena efek kafein, hormon atau memang itu yang gue rasakan.

Apapun itu, sepertinya Tuhan mengabulkan impian konyol yang sering gue angan-angankan. Gue ingin menjadi seperti A, yang selalu mendapat perhatian mereka. Gue ingin seperti B, yang bisa melakukan hal seperti itu. Gue ingin seperti C, yang selalu mendapatkan kesempatan yang menurut gue sangat besar. 

Masih satu, tapi Tuhan berbaik hati mendengarkan rengekan gue. Rengekan yang baru gue sadari berdampak besar bagi hidup gue.

Dalam perjalanan pulang, gue masih saja menanyakan hal-hal kecil yang dirasa konyol.
"Kenapa aku kak? Dan kenapa harus aku?"
teringat pertanyaan yang sama pernah gue lontarkan kepada seorang kakak
"kenapa baru sekarang kak?", tetapi dia udah gak bisa lagi menjawab seribu tanya apapun yang gue tujukan

Akhir jawabnya membuat gue tersenyum. Masih, dan sampai sekarang tetap.
Rasa heran dan tak percaya masih memenuhi benak gue
"apa gue bisa?", 
"apa gue mampu?", 
"apa gue sanggup?"
 Tapi seperti kata kalian, ketakutan yang membuat gue tertahan.


"... keberanian itu sebenarnya hanyalah keadaan ketika kita bisa mengalahkan rasa takut. dan gak akan ada kalau kamu nggak usaha ..."
-(Masih) Seorang kakak-
 

mulai bekerja

entah ini pengaruh kopi atau apa, yang jelas saat ini aku bersemangat
hanya sekedar mencuci baju yang sudah lama tak terbilas
membereskan kamar yang sudah tak jelas juntrungannya

atau bahkan bersemangat untuk langsung menulis
yah, seperti semua tahu LTM-ku sangat lemah, sekarang bahkan aku hampir saja melupakan semuanya

kafein, hormon adrenalin atau apapun itu aku tak peduli
yang penting, aku akan selalu mengusahakan perasaan ini ada di dalam diriku

bahkan baru terasa pegal-pegal setelah sekian lama tak bergerak
bagai mesin tua yang dipaksa untuk bekerja
bagai gear nyangkut yang dipaksa untuk berputar

hey Lid, sekaratan itukah kamu?