Selama beberapa bulan ini, yang gue kerjakan di rumah adalah belajar menjadi ibu rumah tangga yang baik dan benar.
Menurut gue, belajar mengerjakan tugas-tugas domestik sejak dini cukup penting untuk persiapan berumahtangga kelak.
Tapi, dasar guenya yang bosenan, beberapa minggu mengerjakan rutinitas yang sama membuat gue menjadi sangat pemalas.
Ditambah kecepatan dan keefektivan kerja gue *songong*, maka semua pekerjaan tersebut dapat diselesaikan dengan lebih cepat.
Maka, jadilah waktu luang gue cukup teramat banyak.
Dan gue bingung mau diisi dengan apa.
Lalu, gue keinget beberapa kejadian yang pernah gue alami di krl dan bis.
Gue melihat bahwa para ibu-ibu, dapat dengan cepat akrab dengan ibu-ibu lain.
Buktinya, setelah 5 sampai 10 menit, mereka--yang tadinya tidak saling kenal--akhirnya bisa ngobrol panjang kali lebar kali tinggi, dan jadilah obrolan yang cukup dalam tentang keluarga mereka masing-masing.
Awalnya gue heran kenapa para ibu-ibu itu bisa dengan mudahnya bercerita dengan orang yang tak dikenal.
Tapi setelah mendalami kegiatan sebagai ibu rumah tangga, gue sedikit banyak bisa menghayati.
Ternyata mereka merasa kesepian sendirian di rumah.
Sebagai wanita yang memang memiliki naluri untuk berbicara lebih banyak ketimbang para pria, wajar saja jika mereka mencari 'teman senasib' di luar sana.
Setelah mengetahui fakta ini, gue semakin sadar betapa para orang tua memang benar merindu saat mereka mengajak anak mereka mengobrol, atau sekadar menanya kabar.
So, sapaan singkat kalian cukup untuk mengusir sepi mereka setelah ditinggal pergi seharian.
Dan kalian baru akan mengerti tentang ini ketika kalian sudah cukup tua dan anak kalian sudah beranjak dewasa.
Rabu, 25 Mei 2016
#OneFilmADay(OrMore)
Dalam film Marvel's Agent of S.H.I.E.L.D, ada sebuah adegan dimana para agen sedang bersiap untuk menghadapi musuh.
Kemudian, terdengar 2 orang diantaranya bercakap-cakap.
.
.
Cowo : Sepertinya, kamu lebih butuh ini daripada aku (sambil mengulurkan sebuah kalung)
Cewe : Apa-apaan kamu ini. Itu lambang kepercayaan, bukan jimat keberuntungan! Kenapa kamu mengembalikan pemberian orang seperti itu?
.
.
Ya, kadang kita menganggap beberapa barang keagamaan sebagai jimat.
Sehingga lupa apa yang benar-benar kita percaya.
#OneFilmADay(OrMore)
Rabu, 18 Mei 2016
#OneFilmADay(OrMore)
Beberapa hari yang lalu, saat main-main ke toko buku, gue melihat buku John Green yang berjudul Paper Towns. Berbekal pengalaman menonton The Fault in Our Stars, dan sinopsis bukunya, segeralah gue mencari filmnya untuk ditonton.
Trailer yang gue tonton membuat gue semakin bersemangat untuk menikmati film yang satu ini.
Hasilnya?
Gue rasa, menonton trailernya jauh lebih membuat berdebar-debar dibanding menonton full film-nya. Trailer yang dikemas dengan padat membuat imajinasi gue berkembang liar dan membuat ekspektasi gue akan film ini cukup tinggi.
Meski filmnya tidak sesuai ekspektasi gue, namun film ini tetap dapat dinikmati karena selalu ada hal-hal kecil yang un-expected yang disajikan dalam film ini.
Hal yang gue rasakan setelah menonton film ini adalah rasa hangat karena film ini cukup bisa menyentuh di sisi lain yang tidak ecek-ecek dan tidak biasa.
Sila ditonton filmnya untuk menikmati cerita yang sederhana tapi tetap detil. :)
#OneFilmADay(OrMore)
Selasa, 17 Mei 2016
Kamis, 21 April 2016
"Carilah dirimu sendiri, maka dalam jangka panjang kau hanya akan menemukan kebencian, kesepian, keputusasaan, kemarahan, kebobrokan, dan kebusukan.
Tetapi carilah Kristus, maka kau akan menemukan-Nya, dan bersama-Nya, segala sesuatu yang lainnya akan ditambahkan."
- C.S. Lewis, Mere Christianity -
- kalimat ini ditemukan dalam buku There you'll find Me (Jenny B. Jones),
yang dari bukunya terpancar kesedihan dan ke-desperate-an
sang tokoh utama dalam mencari sesuatu -
Kamis, 07 April 2016
Rabu, 06 April 2016
Mengkonsepkan hidup
Gue ngga pernah membayangkan akan menjadi seorang peneliti.
Menurut gue, bidang itu adalah bidang yang serius dan bukan gue banget.
Setelah ditelisik lebih lanjut, gue menyadari bahwa rasa takut tidak memiliki kapabilitas membuat laporan dan berpikir sistematis menjadi alasan utama gue kenapa akhirnya malas mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut.
Lalu, dalam proses membuat sebuah penelitian wajib di kampus, gue dikenalkan dengan seorang dosen yang berdedikasi tinggi dalam pendidikan.
Beliau menekankan pentingnya pemahaman dan sistematika berpikir dalam membuat penelitian.
Gue di gojlok untuk benar-benar paham luar dalam mengenai konsep yang gue gunakan, dan di tempa untuk mengenali alat ukur yang gue gunakan.
Hasilnya?
Gue menyelesaikan penelitian tersebut dengan membawa bekal bahwa pemahaman yang gue miliki dapat gue terapkan di kehidupan nyata.
Selebihnya,
Gue menjadi tempat bertanya dan teman diskusi bagi beberapa orang junior.
Hasil penelitian gue menjadi acuan bagi penelitian mereka.
Dan nama gue tercantum dalam laporan mereka.
Bagi gue, pencapaian tersebut sudah lebih dari cukup untuk meningkatkan self-esteem.
Self-esteem yang meningkat, memungkinkan gue untuk memiliki self-acceptance yang tinggi.
Harapannya,
sebentar lagi gue akan mendapati bahwa psychological well-being gue sebagai peneliti adalah tinggi.
Langganan:
Postingan (Atom)