Setiap manusia pasti memilih.
Memilih untuk berjalan ke arah kanan atau kiri.
Memilih untuk senang atau membiarkan diri bersedih.
Memilih untuk tinggal dan tetap menjadi orang bodoh, atau memilih untuk bergerak, sakit, dan menjadi berani.
Semua pilihan ada konsekuensinya.
Pilihan bukan tentang mana yang baik atau buruk.
Karena sejatinya, baik dan buruk adalah soal persepsi.
Tapi pilihan adalah tentang mana yang sesuai atau tidak.
Sesuai untuk diri sendiri dan orang lain.
Sesuai untuk keadaan saat ini, dengan mempertimbangkan masa depan.
Mungkin pilihan bagi wanita adalah tentang bagaimana emosinya menang melawan semua teori yang ada di muka bumi ini.
Sedangkan bagi pria, menang adalah ketika logika tetap berjalan dan menekan rasa sehingga mereka tetap terlihat "jantan".
Siapa yang bisa disalahkan kalau begitu?
Memang sudah kodrat mereka bukan?
Tapi yang pasti, hanya keledai yang jatuh dilubang yang sama lebih dari sekali.
Kecuali mereka memilih untuk konsisten tanpa mempertimbangkan adanya fenomena yang disebut "proses pembelajaran"
Senin, 29 September 2014
proses tak pernah mulus
Perubahan memang butuh proses yang tentunya tidak singkat.
Kadangkala, proses tersebut bukannya merubah menjadi lebih baik, namun menjadi lebih buruk.
Seperti seseorang yang egois, kemudian belajar berbesar hati.
Namun setelah proses berbesar hati selama sekitar 2 tahun, ternyata sifat egoisnya sama sekali tidak hilang.
Hanya saja, belum ada moment yang pas untuk keluar.
Kadangkala, proses tersebut bukannya merubah menjadi lebih baik, namun menjadi lebih buruk.
Seperti seseorang yang egois, kemudian belajar berbesar hati.
Namun setelah proses berbesar hati selama sekitar 2 tahun, ternyata sifat egoisnya sama sekali tidak hilang.
Hanya saja, belum ada moment yang pas untuk keluar.
Selasa, 23 September 2014
Alone vs Lonely
"Kita TAKUT menjadi orang yang independent!
Sendiri (alone).
Karena kita TAKUT merasa sendiri (lonely).
Tapi, kita baru akan menyadari bahwa kita tidak sendiri (lonely),
ketika kita sedang sendiri (alone)."
Gravitasi di sebuah orbit
Sabtu lalu, gue terlibat pembicaraan menarik dengan seorang teman, Ipi.
Berhubung dia lekat dengan unsur-unsur planet dan bintang, maka kami secara tidak langsung menganalogikan apa yang kami perbincangkan dengan istilah yang sejenis.
Berawal dari fenomena yang sama-sama kami rasakan, kami menyimpulkan bahwa orbit yang kami lalui ini sedikit banyak sudah tidak cocok lagi.
Mungkin gravitasi yang dihasilkan dalam orbit ini kurang mampu menarik kami untuk bergerak di jalur yang tetap;
atau bisa jadi ada gravitasi dari orbit lain yang lebih kuat dan sesuai.
Sebenarnya, masih banyak planet yang ber-orbit sama dengan kita, hanya saja kita tidak tahu karena kita tidak pernah berpapasan.
Tidak ada bukan berarti benar-benar tidak ada.
Mungkin hanya belum ada.
Atau kita yang tidak tahu.
Senin, 22 September 2014
menerjang (sebelah) Bandung
gue udah gabung di Kelompok Kegiatan Technotainment (KK TNT), sejak dahulu kala.
(boong deng, sejak awal masuk kuliah haha)
Minggu lalu, topik favorit yang paling sering gue obrolin adalah tentang TNT tercinta ini.
Sama siapapun, dimanapun, kapanpun.
Mungkin orang-orang sampe bosen kali ya dengernya haha :p
Terus akhirnya, Sabtu kemaren, gue beserta beberapa orang pergi ke Bandung buat hunting foto.
Janjiannya sore, tapi berhubung hujan dan ini itu, jadilah baru pada ngumpul setelah magrib.
| captured by (mungkin) Seno |
Kami mulai dari Taman Dago, lalu ke Taman Jomblo, Pasupati.
Disana rame sama anak-anak muda yang nongkrong nyambi main skateboard.
Pengen banget nyobain main skateboard, tapi gaberani.
Di rumah cuman bisa nyobain berseluncur seuprit di ruang tamu, soalnya gadibolehin main di luar ama empunya papan.
Jadilah cuman bisa mupeng ngeliatin para skater main.
*lalucurcol*
![]() |
| harusnya sih candid by Myra |
Terus, kami lanjut ke Taman Film; sambil juga mupeng liat film anak Fikom Unpad yang lagi diputer.
Gue cuman bisa ngebayangin kapan bisa menghasilkan film yang diapresiasi (seenggaknya oleh para krunya sendiri, kemudian baru sama penontonnya)
Nggak lama, kami lalu menyusuri perumahan dengan gang-gang kecil disana.
Semua ditempuh dengan berjalan kaki, sembari berkali-kali bikin macet karena berhenti mengambil gambar.
Tiba-tiba, kami udah keluar ke jalan Cihampelas dan memutuskan buat nyari makan di warung nasi goreng mawut.
Porsi nasi goreng ini, satunya setara dengan dua kali lipat porsi makan gue biasanya.
Tapi dengan sekuat hati dan kesungguhan jiwa, akhirnya dihabiskan juga, mengingat gue belum makan siang.
*keprokkeprok*
![]() |
| panning + monochrome :3 |
Abis makan, karena udah jam 10 malem, kami langsung pulang biar ngga kemaleman. (padahal emang udah ke-malem-an haha)
Travel yang gue naiki adalah travel terakhir, dan untungnya kami dapet tiket.
Sekitar sepuluh menit setelah mobilnya jalan, gue ketiduran dan (untungnya) kebangun waktu udah mau sampai.
6 Jam. Bandung. Jalan kaki.
Nggak kerasa seberapa capeknya, soalnya udah ketutup rasa seneng duluan.
![]() |
| "menyentuh yang tak tersentuh" |
Gue nggak pernah bosen bilang kalo gue senang memotret.
Memotret bagi gue adalah mengabadikan moment.
Karena dengan sebuah cetak biru, gue bisa kembali mengingat apa yang bisa gue ingat.
(Maklum, ingatan gue sangat payah, makanya butuh hal-hal kayak gini buat jadi trigger)
eskaesde buat pedekate
Oke, sudah tiga minggu lewat setelah gue memulai proyek keberanian gue.
Minggu kedua gue isi dengan SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) sama para Pramuda 2014.
Jadi ceritanya, sesuatu terjadi, dan gue kepepet.
Sebuah acara di kampus gue mengadakan opening, dan gue mengajak para maba buat ikutan dateng.
Berhubung mereka banyakan, dan gue cuman sendiri (berdua deng ama temen gue); jadilah gue yang (sok) kakak'an ini mencoba untuk pedekate ke adik-adik gue.
Dengan (sangat) ceria, gue mengajari mereka sebuah yel-yel, mengatur ini-itu, mengingatkan akan formasi dan membriefing mereka berkali-kali (memastikan tidak ada yang terlupa) (karena dengan berat hati gue tidak bisa menemani saat itu).
Saat itu gue panik haha
tapi meski nggak sesempurna seharusnya, setidaknya semuanya berjalan lancar dan tanpa hambatan berarti.
Bahkan saat akhirnya gue menyusul, adik-adik kelas gue yang tadi ijin pulang dengan wajah-wajah yang sumringah.
Semoga mereka memang mendapatkan sesuatu yang menyenangkan yaa. :)
Minggu kedua gue isi dengan SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) sama para Pramuda 2014.
Jadi ceritanya, sesuatu terjadi, dan gue kepepet.
Sebuah acara di kampus gue mengadakan opening, dan gue mengajak para maba buat ikutan dateng.
Berhubung mereka banyakan, dan gue cuman sendiri (berdua deng ama temen gue); jadilah gue yang (sok) kakak'an ini mencoba untuk pedekate ke adik-adik gue.
Dengan (sangat) ceria, gue mengajari mereka sebuah yel-yel, mengatur ini-itu, mengingatkan akan formasi dan membriefing mereka berkali-kali (memastikan tidak ada yang terlupa) (karena dengan berat hati gue tidak bisa menemani saat itu).
Saat itu gue panik haha
tapi meski nggak sesempurna seharusnya, setidaknya semuanya berjalan lancar dan tanpa hambatan berarti.
Bahkan saat akhirnya gue menyusul, adik-adik kelas gue yang tadi ijin pulang dengan wajah-wajah yang sumringah.
Semoga mereka memang mendapatkan sesuatu yang menyenangkan yaa. :)
Kamis, 18 September 2014
#OneFilmADay(OrMore)
Baru aja gue nonton sebuah film, yang katanya bagus. (Kata siapa? haha)
Ceritanya sejenis dengan film yang belum lama gue tonton, Divergent.
Tentang sebuah dunia yang diisolasi dan dibuat "seragam" dan setara hanya untuk menjunjung tinggi perdamaian dunia.

Menurut gue awalnya The Giver ini pastilah jalan ceritanya tertebak.
Dan memang, sudah gue duga intinya juga sama saja dengan film yang lain.
Tapi, ada yang berbeda dari konsep pembuatan film ini.
Sebagai mahasiswi psikologi yang belajar mengenai emosi, dan erat kaitannya dengan "rasa", gue tidak bisa memahami bagaimana jika seseorang memiliki jiwa yang datar-datar saja.
Hidupnya dikontrol dengan sebuah obat dimana menekan emosi agar tidak sampai terolah oleh otak belakang manusia.
Mereka melakukan segala sesuatu yang dikendalikan oleh sistem, dan mengikuti peraturan yang berlaku.
Menurut gue, film ini lebih smooth daripada Divergent.
Dimana memang mereka bukan tidak mau manusia merasakan "rasa", tapi karena mereka memang tidak tahu bahwa "rasa" itu ada.
Dan tentu mereka tidak tahu bagaimana rasanya memiliki "rasa" itu.
Gue paling trenyuh ketika endingnya melihat mereka menangis karena tidak siap menerima emosi yang baru mereka kenal.
Sama seperti gue ketika beberapa minggu lalu, merasakan emosi yang juga baru, dan sama tidak tahunya seperti mereka dalam hal merespon emosi tersebut.
Satu hal yang gue syukuri dari film adalah, gue mengenal apa itu emosi, bagaimana rasanya, dan bagaimana cara meresponnya.

Selamat menonton :)
#OneFilmADay(OrMore)
Langganan:
Postingan (Atom)


