Beberapa saat kebelakang, kepalanya penuh sama semua hal.
Beberapa saat kebelakang, semuanya minta diperhatikan.
Beberapa saat kebelakang, tenaganya terkuras habis.
Hampir kehabisan napas, saat kejar-kejaran sama tengat waktu.
Kehabisan tenaga, saat kejar-kejaran sama maunya orang.
Belum lagi kehabisan waktu, saat berusaha memenuhi jam tidur.
Kita emang nggabisa nyenengin semua orang.
Nggabisa tau apa maunya semua orang.
Kadang malah, semua hal bisa salah dimata semua orang.
Gimana mau mengerti, kalau tahu aja tidak.
Gimana mau tahu, kalau mendengar aja enggak.
Sampai satu titik, dikasih waktu untuk berdiam diri. Hening.
Cuman ingin duduk tenang tanpa melakukan apapun.
Coklat panas di kiri, di kanan seorang yang hangat.
Memeluk adalah salah satu cara yang paling baik untuk menunjukkan bahwa kita peduli.
Bahwa kita dipedulikan. Iya kan?
Bahkan, tepukan dipundak juga cukup untuk sekarang.
Kalau mengusir kusutnya otak nggabisa dilakukan.
Tapi, Tuhan tidak akan memberikan pencobaan lebih dari yang kita mampu hadapi, kan?
Sebentar lagi, Lid. Bertahan, yuk.
Jangan meledak sekarang. Nanti aja.
Kamis, 13 Desember 2018
Selasa, 16 Oktober 2018
His time,
just in time
Banyak hal yang terjadi tidak lebih cepat atau lebih lambat dari seharusnya, tapi tepat pada waktunya.
Bahkan ketika kita mengusahakannya lebih banyak, jalan itu tidak akan terbuka karena usaha kita.
Bahkan ketika kita mendoakannya lebih sering, pun jalan itu tidak semakin mudah karena doa kita.
Tuhan akan memberikan jawaban itu sesuai kesiapan kita menerimanya. Sesuai waktunya, dan sesuai waktu-Nya.
Rabu, 03 Oktober 2018
#commuter lyfe
Nggak kerasa udah sebulan melakukan rutinitas yang berbeda.
Menjalani rute yang berbeda.
Bertemu dengan orang-orang asing lebih sering.
Berkelompok dengan pasangan yang berbeda-beda.
Kembali memikirkan hal-hal yang tidak lagi dipikirkan sejak dua tahun silam.
Tidur lebih malam.
Berdiri lebih lama.
Melangkah lebih jauh.
Tegak pun lebih lama.
Pundak memikul beban lebih berat.
Punggung harus sedia tegak juga lebih lama.
Tepat 30 hari yang lalu.
Memulai dengan rasa takut dan khawatir.
Saat ini, rasa-rasanya semua bisa diatasi.
Kecuali badan yang semakin lemah.
Mata yang semakin kuyu.
Kepala yang semakin sering pusing.
Baru 30 hari.
Sedikit jenuh dengan rute tempuh yang harus dilalui siang malam.
Siang tadi, ditengah-tengah menahan punggung yang mulai sakit,
terdengar percakapan dua orang ibu.
Salah satunya adalah seorang guru, berseragam pramuka, dengan rambut diikat asal, dan dengan mata yang juga kurang tidur.
Ternyata, rute temputnya lebih jauh dariku.
Tangerang - Cikarang setiap hari.
Berangkat 4.15 setiap pagi, karena masuk sekolah jam 7 pagi.
Jam 3 baru sampai Manggarai.
Pulang sekolah harus langsung tidur, katanya. Baru punya tenaga untuk beberes setelah bangun.
Dalam hati, salut akan loyalitasnya.
Tapi, terbersit juga dibenak pertanyaan kenapa dia tidak berusaha untuk memperpendek jarak.
Tapi mungkin beliau punya alasan sendiri.
Alasan yang sama kenapa aku bertahan sampai saat ini.
Mengorbankan badan yang mungkin tidak lagi bertahan tegak.
Alasan yang sepertinya membuatku tampak bodoh, tapi juga alasan yang sepertinya setiap orang mau untuk pertahankan.
.
.
.
Bertahan ya badan.
Berdoa lebih kuat agar badan ini tidak kalah oleh rasa lelah.
Bantu doa gengs.
Untuk siapapun yang ikut serta membaca curcol ngga penting di blog kali ini.
:D
Menjalani rute yang berbeda.
Bertemu dengan orang-orang asing lebih sering.
Berkelompok dengan pasangan yang berbeda-beda.
Kembali memikirkan hal-hal yang tidak lagi dipikirkan sejak dua tahun silam.
Tidur lebih malam.
Berdiri lebih lama.
Melangkah lebih jauh.
Tegak pun lebih lama.
Pundak memikul beban lebih berat.
Punggung harus sedia tegak juga lebih lama.
Tepat 30 hari yang lalu.
Memulai dengan rasa takut dan khawatir.
Saat ini, rasa-rasanya semua bisa diatasi.
Kecuali badan yang semakin lemah.
Mata yang semakin kuyu.
Kepala yang semakin sering pusing.
Baru 30 hari.
Sedikit jenuh dengan rute tempuh yang harus dilalui siang malam.
Siang tadi, ditengah-tengah menahan punggung yang mulai sakit,
terdengar percakapan dua orang ibu.
Salah satunya adalah seorang guru, berseragam pramuka, dengan rambut diikat asal, dan dengan mata yang juga kurang tidur.
Ternyata, rute temputnya lebih jauh dariku.
Tangerang - Cikarang setiap hari.
Berangkat 4.15 setiap pagi, karena masuk sekolah jam 7 pagi.
Jam 3 baru sampai Manggarai.
Pulang sekolah harus langsung tidur, katanya. Baru punya tenaga untuk beberes setelah bangun.
Dalam hati, salut akan loyalitasnya.
Tapi, terbersit juga dibenak pertanyaan kenapa dia tidak berusaha untuk memperpendek jarak.
Tapi mungkin beliau punya alasan sendiri.
Alasan yang sama kenapa aku bertahan sampai saat ini.
Mengorbankan badan yang mungkin tidak lagi bertahan tegak.
Alasan yang sepertinya membuatku tampak bodoh, tapi juga alasan yang sepertinya setiap orang mau untuk pertahankan.
.
.
.
Bertahan ya badan.
Berdoa lebih kuat agar badan ini tidak kalah oleh rasa lelah.
Bantu doa gengs.
Untuk siapapun yang ikut serta membaca curcol ngga penting di blog kali ini.
:D
Minggu, 30 September 2018
.
Pernah ngga kalian berada dalam suatu kondisi, dimana kalian tiba-tiba merasa gamang.
.
Seperti akhirnya nyemplung ke dalam suatu kolam yang ternyata lebih dalam dan membutakan daripada yang kalian pikirkan sebelumnya.
.
.
Lalu merasa takut.
Tetapi keheningan yang mencekam terlalu lama akhirnya membuat rasa takut itu sirna.
Tetapi keheningan yang mencekam terlalu lama akhirnya membuat rasa takut itu sirna.
Yang sisa adalah rasa khawatir akan kekhawatiran itu sendiri.
.
Khawatir nantinya akan ada alasan lain yang mengkhawatirkan.
.
.
.
Sedang dalam sumur dan ingin merangkak naik.
Selasa, 25 September 2018
Minggu, 23 September 2018
"Sorry"
Percakapan siang tadi.
Pernahkah kamu mengecewakan seseorang?
Pernah. Seorang Sahabat.
At least, seseorang yang masuk dalam lingkaran pertemananku.
Mengecewakannya bahkan saat dia sedang sangat membutuhkanku.
Bagaimana rasanya?
Sakit. Menyesal.
Apa yang terjadi?
Aku sibuk.
Terlalu sibuk melakukan hal yang membuatku senang.
Sehingga menjadi tidak ada waktu untuknya.
Dia sangat sering menolerir ketidakhadiranku.
Tapi bahkan dia masih mau menyakiti dirinya dengan berharap padaku,
berharap aku punya sedikit waktu untuknya saat itu. Saat Ia sedang sangat butuh teman.
Lalu apa yang kamu lakukan?
Aku berusaha untuk menghampiri meski ditolak.
Aku berusaha untuk hadir meski terlambat.
Aku membayarnya dengan menerima saja
ketika dia tidak lagi percaya padaku -- dan memilih menjauh karena kecewa.
Tapi,
Aku tak berhenti di situ. Aku berusaha memegang yang tersisa.
Berusaha menghargai waktu dan kehadiran seseorang.
Menghargai apa yang bisa kulakukan untuk orang lain.
Memberi waktu, tenaga, dan perhatianku untuk mereka yang masih tersisa dan hadir hingga kini.
Aku pernah kecewa, dan tidak lagi mau menjadi alasan orang lain merasakan sakitnya. :)
Aku juga pernah. Dan rasanya tidak enak.
Apa yang harus kulakukan?
Mengakulah padanya. Minta maaf.
Tapi lalu tetap berjalan, dan jangan diulang kembali.
ps : teruntuk seorang teman yang pernah kukecewakan.
Maaf karena tidak pernah mengakui kesalahanku ini.
Maaf karena pernah mengabai, dan lupa untuk kembali.
Lalu menjauh dan tenggelam dalam rasa bersalahku.
You deserve a 'sorry'.
Langganan:
Postingan (Atom)