Sabtu, 10 Februari 2018

Dilanku 1990

Memutuskan menonton karena termakan rasa penasaran. 
Kemudian memutuskan kecewa, karena termakan ekspektasi.

Tadaa~


Semua orang punya Dilannya masing2. Punya bayangannya akan Dilannya sendiri.

Bagiku, Dilanku adalah sesosok anak SMA, menggunakan seragam biru, yang tak rapi dimasukkan celana dengan warna senada. Dilan yang cungkring dan jangkung. Dilan dengan senyum setengah tiangnya. Senyum tengil contempt dengan rasa yang bikin gregetan. Yang lebih sering nyengir ketimbang senyum manis.
Dilanku adalah dia yang cuek, tapi baik sama semua orang. Dilan yang bandel, tapi tetap respect sama guru-gurunya. Dilan yang bukan idola sekolahnya, tapi tetap punya pengagum rahasia. Yah, semua orang punya Dilannya masing2. Punya bayangan akan bagaimana sosok Dilan dalam "hidup" mereka. Yang jelas, Dilanku sudah pergi entah kemana. Terakhir hanya sempat kulihat punggungnya di balik pagar rumah, tanpa sempat mengucap selamat tinggal. Dan tak pernah bertemu sejak 7 tahun lamanya. Dilan 2011.

---

Setiap orang juga punya rasanya masing2 setelah menonton film ini. Aftertastenya berbeda buat tiap pribadi, tergantung memori apa yang paling kuat ditarik kembali oleh penggalan pengalaman sederhana dalam film ini.
Aftertaste ku sedih. Entah kenapa, entah apa. Lagi2, seperti merasa depresi setelah merasakan manic. Tapi bukan karena filmnya sendiri. Karena memori yang terpanggil mungkin memori yang menyedihkan, memori yang sudah kadaluarsa dan tak bisa diulang.

---

Film ini menyenangkan memang. Menyadarkan bahwa pada tahun 1990, muda mudi bisa senang hanya karena disapa selamat pagi oleh orang yang belum dikenal. Muda mudi bisa cengengesan sendiri karena dapat TTS yang sudah terisi. Dan muda mudi bisa berbunga2 karena dapat telpon (hampir) tiap malam. Yang jelas sih ngga ada adegan rebutan "kamu duluan yang tutup telponnya".

Mungkin bagi para generasi X, mereka akan merasakan nostalgia saat menonton film ini. Bersyukur karena mereka masih familiar dengan cara pedekate yang sesederhana itu. Bersyukur karena saat itu, ngga semua cewe harus didekati bermodal mobil mentereng dan barang2 branded.

Mungkin bagi para millenials, mereka senyum2 hebring sendiri karena gemes sama cowo tengil kayak Dilan, yang jarang ditemui pada masa2 seperti ini. Lalu, mungkin habis ini, akan tiba masanya, kepuasan hubungan mereka menurun, dan mereka menuntut pasangan masing2 untuk jadi seromantis Dilan.

---

Oke, mari kita mulai review filmnya. Yang di atas tadi baru pemanasan 😜

Filmnya buatku mengajarkan bahwa kita bisa bilang sesuatu dengan jujur tanpa embel2 malu, negative thinking, atau modus, atau baper, atau apalah-itu-yang-sebenarnya-normal-tapi-jadi-aneh-karena-capnya-netizen.

Senang itu sesederhana dapat telpon dari dia.
Khawatir itu sesederhana gabisa nemuin dia pada saat jam istirahat.
Marah itu sesederhana ketika kita dikatain sama pacar sendiri.
Dan cemburu... Sesederhana melihat dia jalan sama orang lain.
Tapi mematahkan gengsi, sesederhana "aku minta maaf, aku sudah ingkar janji".
Dan memaafkan sesederhana kata "Iya".


Gue rasa, udah cukup dari segi storynya. Karena sejauh ini, cerita dalam filmnya memang persis sama dengan cerita dalam bukunya. Dan gue suka bukunya. Meski untuk beberapa part, ada hal-hal yang ngga sesuai sama apa yang kuingat. Atau setidaknya, aku mengingatnya tidak begitu. Tapi mungkin, karena perkara durasi, maka film ini harus di cut sana sini agar lebih padat. Tapi setidaknya, Fajar Bustomi dan Pidi Baiq berhasil membuat film ini sama rasanya dengan Dilan 1990.

Sekarang mari bahas film ini dari segi sinematografinya.

Ada hal-hal yang membuatku merasa asing dengan Bandung di tahun 1990. Meski agak sok bagiku menilai Bandung di tahun segitu, padahal menjadi anak Bandung (CORET) saja bisa dihitung 1 tangan.

Aku baru tau suasana di Bandung bisa se modern itu. Bandung disulap menjadi seperti Jakarta. Dengan gaya yang lebih maju, dan stylish. No offense, bukan maksudnya tahun 1990 tidak boleh gaya, tapi sepertinya beda aja gitu trend saat itu. Tapi bolehlah, bisa mengosongkan jalanan di Braga dan ITB sebegitu lempengnya, padahal sekarang Bandung teh sudah macetos banget. Super duper luar biasa juga karena bisa mengundang RK untuk hadir jadi cameo di film tersebut. *Keprok keprok*


Dari segi cast, menurutku terlepas dari acting mereka, Dilan dan Milea memang sudah memiliki chemistry yang cukup oke. Mereka bisa memainkan sepasang muda-mudi kasmaran yang tidak kurang dan tidak lebih. Mereka bisa membagikan keceriaan dan rasa bahagia ke penonton. Namun, emosi marah, sedih dan kaget adalah emosi-emosi yang sangat susah untuk ditampilkan. Sehingga kadang, rasanya ngawang dan jadi ngga nyampe ke gue. Jadinya ada yang patah dari cerita itu. 

Yhaa, intinya ceritanya sukses membuat gue cengengesan sendiri. Tapi memang gue kecewa akan ekspektasi gue sendiri.

Harusnya, film ini bisa jauh lebih bagus lagi... :)


                                                                                              #OneFilmADay(OrMore)

Kamis, 25 Januari 2018

Bergemuruh

Biasanya yang dadakan itu selalu jadi.
Berbekal ajakan, "Lid, nonton yuk!", lalu mengajak beberapa orang untuk menonton film di jam terakhir malam itu, lalu jadilah...



Responnya? 

Nobody told me kalo film ini adalah drama musikal. Kirain mah ya film drama kehidupan biasa. Makanya beberapa menit pertama amazed karena “drama kehidupan” kok ya detil amat sama music and dance nya. Terkesima sesaat sama detil transisi setiap scene yang continuity-nya dapet banget.


Dan suara castnya bikin meleleh!
Beberapa minggu ini ngikutin sebuah reality show ajang pencarian bakat di Indonesia, yang mana setiap juri selalu mengingatkan finalisnya bahwa mereka harus bernyanyi dari hati. Mereka harus menyampaikan rasa dengan tulus. Mereka harus menyanyikan lagu dengan penuh emosi. Awalnya ndak ngerti sih kenapa para juri sangat fokus ke hal itu. Toh menurut gue, mereka mah nyanyi udah bagus-bagus kok suaranya. (Ini beneran, bukan karena gue nggabisa nyanyi haha)  Lalu, setelah nonton film ini, baru deh gue ngerti apa maksudnya. HAHAHA

Ngga semua lagu awalnya gue ngerti apa arti liriknya. Tapi mah maksudnya tetep nyampe kok ke gue, karena dibawakan dengan penuh “rasa”. 

Salam zuper buat koreografer dance dan yang ngaransemen musiknya. Luar biasa. Mereka bener-bener mikirin the whole film sebagai sebuah kesatuan tim, bukan tim yang berdiri sendiri dan pengen nonjolin ke-khas-an timnya masing-masing. Ibarat kata teori nih, mereka pake teori Gestalt buat bikin film ini. Haha Mereka bisa menyatukan semua hal dalam hidup, menjadi sebuah dentuman melodi. Mulai dari ketukan palu, hentakan kaki, bahkan sampai gesekan kursi dan gelas. Perfecto!


“Lupakan kurungan, karena kami tahu cara membuat kuncinya.”


Gue yang awalnya mengira film ini mengenai drama kehidupan, merasa sedikit kecewa dengan alur ceritanya yang terlihat “sangat mudah”. Alur ceritanya seperti ada yang kurang lengkap, dan kurang detil di beberapa cerita yang sebenarnya menjadi inti rasa dari film ini. Entah karena memang mereka terlalu detil pada musik dan koreo, sehingga jadi kedodoran di bagian alur cerita; atau memang karena durasi, sehingga mereka terpaksa memotong beberapa scene (bahkan juga yang termasuk scene kunci dalam film ini).

Tapi, nggapapa. Menurut gue, hutang itu masih bisa dibayar dengan “rasa” yang disampaikan melalui lirik lagu dan gerakan tubuh para pemainnya.

Melalui film ini, gue belajar bahwa hidup kita adalah musik, jadi... dibawa asik ajeee~ haha Kagak deng. Gue jadi diingatkan kembali sihh bahwa mimpi-mimpi yang gue punya selama ini, harus mulai gue lihat kembali dan kembangkan. Gue harus bisa belajar menghidupi mimpi gue. Karena, kalo kata P.T. Barnum, 

“Satu-satunya yang membatasi seseorang hanyalah imajinasinya”.


Bahkan beberapa minggu setelah menonton filmnya, "emosi"nya masih terasa. Emosi yang gue rasakan dari scene pertama Hugh Jackman bernyanyi. Bahkan dari pementasan pertama, sang director berhasil mempermainkan emosi gue. Sesuatu yang terasa too much, too good to be true, kemudian hening dan hampa. Gamang. Kayak abis ngerasain manic, tapi lalu jadi depresi.


Saking sukanya sama film ini, gue liatin channel-channel youtube yang mengulas cerita-cerita tentang mereka. Gue salut karena mereka bahkan melakukan latihan sekitar 3 bulan sebelum mereka syuting. Memastikan bahwa setiap scenenya dan koreonya terpahami dengan baik. Bahkan emosi tersebut sudah muncul dari saat mereka latihan !!

Ah, gue kurang pintar berkata-kata. Bahkan setelah menulis sepanjang ini aja gue masih belum bisa menyampaikan maksud gue dengan baik. Intinya nonton sendiri ajadahh. 

Kalo kata Hugh Jackman dalam sebuah interview di kanal Youtube YAAAS TV, “ ... Please go and see THE GREATEST SHOWMAN and i think you will find it is uplifting, it will open your heart, it will make you smile, it will make you sing, but ultimately, it will make you celebrate humanity in your life. Please go and enjoy ;)”


                                                                                                    #OneFilmADay(OrMore)

Jumat, 12 Januari 2018

A bitter truth

Beberapa hari yang lalu, gue dan teman-teman dari divisi pemerhati di pengurus pemuda gereja gue memutuskan untuk kongkow bareng. Kongkow pertama setelah 2 tahun menjabat. Akhirnyaa :')

Berbekal janjian dadakan, kami memutuskan untuk jalan di hari itu juga dan nonton film. Tadaaa~


Gue ngga akan cerita tentang kongkow kami tempo hari. Tapi gue mau ngereview film yang kami tonton waktu itu. 

ALONG WITH THE GODS : THE TWO WORLDS 

Gue ngga pernah membayangkan skenario yang semenarik dan seunik ini untuk menggambarkan sebuah perjalanan penghakiman setelah meninggal.

Setiap bagian neraka penghakiman digambarkan dengan ciri-ciri dan unsur bumi yang berbeda-beda. Mulai dari api, air, tanah, hutan, bahkan juga es.

Wondering, ada beberapa tokoh dewa/dewi yang menurut gue cukup pas diperankan oleh yang bersangkutan. Tapi, apakah sebenarnya ada unsur tersembunyi (atau semacam subliminal message yang ingin disampaikan oleh sang sutradara) saat memilih jenis neraka dan memasangkannya dengan masing-masing karakter dewa/dewi?


Bedanya film asia dengan film barat menurut gue adalah backsound yang unik dan  sederhana. Seinget gue (kalo ngga salah ingat loh ya), backsound dalam film ini semuanya instrumental. Tidak ada lagu yang diputar dengan liriknya. Hanya lantunan alat musik petik yang menyayat hati di bagian-bagian tertentu. Yang turut memperkuat rasa dan emosi dalam tiap adegan.

Alur ceritanya menarik. Banyak unsur komedi yang dimasukkan sebagai penyeimbang (bahkan ditengah adegan yang sedih). Menurut gue, directornya ngga mau kita bersedih lama-lama gengs. Ingat, "Mari kita tidak usah membuang air mata baru untuk yang lama!" (Soo-Hong)

Pengambilan gambarnya juga menarik, dan beatnya juga ngga monoton. Memastikan setiap penonton untuk tetap keep up sama setiap adegan, karena kalo meleng sedikit pasti bakalan kehilangan detil momen yang berharga.


Gue suka cara mereka memasukkan unsur-unsur lain ke dalam film, sehingga film ini sangat kaya. Bahkan ada adegan ala-ala assassin creednya segala, dan macam the lord of the rings juga, sama inception jugaak. Pas bagian kejar-kejaran setan pendendam, macam main ice skating, tapi juga punya kekuatan buat bikin ruang dan waktu sendiri, kayak doctor strange.

Adegan favorit adalah setiap ketua geng malaikat mautnya (Gang-Rim) melewati ruang dan waktu saat sedang melakukan investigasi. Dengan teknik perpindahan ruang yang sebenarnya dekat dengan keseharian kita, tapi tak terpikirkan. Time lapse! Super cool!

Penggambaran akan setan-setan di atas sana juga ngga kuno, tapi tetap membumi. Seakan-akan ingin berkata bahwa bumi tak terpisahkan dari neraka.


Di balik sisi sinematografinya, pesan yang ingin disampaikan juga menarik. Setiap orang pasti akan menangkap pesan yang berbeda sesuai isu diri masing-masing.

Buat gue, langsung deh terlintas kalimat klise yang sering jadi nasihat, "katakan sebelum terlambat!".

Yang menarik adalah, bagaimana sang script writer dapat memutarbalikkan fakta yang terlihat pahit, lalu bisa membuatnya menjadi sedemikian rupa. Ah, apa ya namanya. Menyedihkan, mengenaskan. Yang membuat hangat... Tidak selalu benar, tapi sangat mengundang simpati orang. Dan directornya oke karena bisa mengemas adegan-adegan sesuai dengan timing yang tepat.


Setiap hal memang dapat dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda. Hanya tinggal kita yang memilih, mau percaya apa yang kita lihat kasat mata, atau mau berusaha mengerti apa alasan dibalik yang orang lakukan.

Semacam white lie. Semua tidak bisa dipandang hanya hitam dan putih. Ada kemungkinan abu-abu tua, abu-abu muda, cream, putih kecoklatan, dan banyak lagi gradasi warnanya untuk memutuskan seseorang bersalah atau tidak. 

Ah tapikan kita manusia biasa, yang tak layak menghakimi orang lain. Bahkan para jaksa penuntut saja akhirnya luluh atas ketulusan. Dan menyadari, meskipun tugas mereka adalah memastikan orang yang bersalah tidak lepas dari hukuman, tapi mereka masih tau batas kemanusiaan yang layak diberikan. Bahwa pengampunan itu nyata adanya. (Miris ya. Agak sedikit berbeda sama yang terjadi di dunia ini... )


Sebelum menonton, aku men-challenge diriku untuk tidak menangis. Tapi ternyata gagal, meski hanya setetes dua tetes dan di adegan-adegan terakhir. Aku tak mau memberi challenge yang sama pada orang lain, karena setiap orang punya caranya sendiri memaknai film ini. 😉


Selamat menonton!
Jangan malu ketika akhirnya menangis, ya ðŸ˜‰
Kamu tidak sendiri. :)




#OneFilmADay(OrMore)

Kamis, 11 Januari 2018

2018. The new year!



Tahun 2018.
Tahun yang kemarin sempat gue lihat dengan kengerian. 
Banyak dan akan banyak menghadapi perpisahan. 

Gue masih takut.
Dan ketakutan itu akan tetap ada. 

Gue masih merasa ngeri.
Dan semua obstacle(s) itu akan tetap ada disitu.

Tapi, gue selalu dikuatkan. 
Selalu ada tangan-tangan yang terjulur buat menopang gue.

Dia tidak menghilangkan ketakutan gue. 
Tapi dia memberi gue keberanian untuk melawan rasa takut tersebut.

Dia tidak menghilangkan hambatan tersebut.
Tapi dia ngasih gue kekuatan buat melewatinya. 

Salah satu resolusi gue tahun ini adalah, berusaha untuk lebih berani mengambil resiko, dan mulai fight untuk problem gue, jangan lagi flight.

Yah. Untuk sekarang, 
I can say that i am Okay!

Lord have your way in me. 


"Terima kasih sudah ngasih aku alasan untuk semakin berani melangkah. Karena salah satu ketakutan terbesarku tahun lalu sudah kualami. Jadi, tidak mungkin kan aku akan jadi lebih takut dari ini (?)"

Selasa, 28 November 2017

Tentang aku

Aku.
Rindu.

Aku.
Bosan.

Aku.
Sedih.

Aku.
Takut.

Aku.
Cemas.

Aku.
Ya Aku.

Aku.
Manusia.

Kamis, 23 November 2017

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak

Gue bukan tipe orang yang anti nonton film buatan dalam negri.
Berbekal cerita temen gue tentang sinopsis film, dan ajakan dadakan oleh rekan kerja, jadilah kami pergi menonton film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak sebelum filmnya turun karena nggak laku. :p



Sebelum menonton, yang bikin gue penasaran adalah bagaimana cara pengambilan gambar yang melibatkan kepada dan badan yang terpenggal. Gue rasa, Indonesia belum secanggih itu dalam memproduksi film. Tapi ternyata gue salah. 

Salut sih sama industri perfilman Indonesia yang semakin lama semakin baik. Mereka bisa membuat film itu tampak nyata tanpa embel-embel efek komputer yang terlihat.


Dari segi cerita, menurut gue film ini sangat cerdas.
Yang gue lihat adalah penulis cerita yang ingin menunjukkan sarkasme cerdasnya atas keprihatinannya melihat keadaan Indonesia saat ini. 

Ada beberapa poin yang gue tangkap dari film ini.

Pertama, filmnya diambil di setting bagian Timur Indonesia. 
Menurut gue, selain ingin menunjukkan daya tarik Sumba, sang penulis ingin menunjukkan kemirisan budaya yang seperti tertinggal dan kurang diperhatikan. 

Gue tidak bilang daerahnya kumuh, karena meski daerahnya sangat sederhana dan oranye, setiap sudut yang tersorot kamera bisa membuat kita rehat sejenak dari penatnya rutinitas perkotaan.


Kedua, Gue belum pernah melihat film dengan alur cerita yang cukup pendek, tapi disajikan dengan cukup tidak membosankan. Kalau tidak salah ingat, film ini hanya bercerita tentang 2 malamnya Marlina, yang lambat, tapi terkesan cepat.
Tempo film ini memang terbilang lambat, sampai-sampai temen gue aja sempet ketiduran beberapa detik ditengah film :p
Tapi bagi gue, transisi film (yang semakin menekankan pelannya peralihan film) juga memberi kita ruang dan waktu untuk mencerna cerita dan informasi yang disajikan.

Scene pertama dalam film menggambarkan seorang penjahat yang masuk ke dalam rumah Marlina dengan izin terlebih dahulu. Mengatakan bahwa temannya akan datang, dan meminta dibuatkan makan malam. Marlina dengan tidak berdaya, hanya bisa resah sambil pasrah dan mengikut apa maunya si penjahat. 

Bagi gue, scene ini menggambarkan betapa "penjahat" zaman sekarang, adalah mereka-mereka yang punya kekuasaan, dan dengan manisnya izin bahwa akan meraup harta kita, tapi karena ketidak berdayaan kita, mereka kebal dengan hukum. 


Marlina, dengan tujuan membela diri, akhirnya membunuh satu persatu penjahat tersebut, tapi menyisakan dua orang komplotan yang sedang tak ditempat. Bermaksud membuat laporan ke kantor polisi, dibawalah potongan kepala yang dipenggal dari salah satu penjahat tersebut. Tapi, dengan segala keterbatasan yang ada, Pak Polisi tak bisa melakukan banyak untuk membela Marlina. 

Bagian ini menggambarkan bahwa betapa tidak terfasilitasinya teman-teman kita di pinggiran, dengan ketersediaan alat-alat kesehatan dan pemeriksaan yang memadai. Bahkan transportasi dari rumah ke kantor polisi aja hanya ada tiap sejam sekali, dan jalannya super duper lambat. Kayaknya masih cepetan gue kalo lari wkwk


Scene lain yang jadi sorotan gue adalah, ketika salah satu komplotan penjahat, menyandera teman Marlina, agar bisa mendapatkan kembali potongan kepala bosnya. Lalu, sempat-sempatnya dia berTERIMA KASIH kepada Marlina karena sudah mau mengembalikannya. Sungguh penjahat yang sangat sopan. Prok prok prok.

Menurut gue, fenomena ini menggambarkan betapa orang-orang yang sebenarnya jahat, tidak mau terlihat sebegitu jahatnya, dengan membuat excuse "pembelaan diri", seakan-akan hal tersebut bisa menghilangkan title penjahat dari diri mereka. Mereka playing victims seakan-akan menjadi korban dan Marlina lah penjahatnya. Aku geram sekali. Huuuh.

Miris memang nonton film ini.
Tapi memang lokasinya bagus, pengambilan gambarnya juga bagus, filmnya ritmik dan menurut gue tidak bisa sembarang orang juga yang menonton film ini lantas menjadi penikmatnya. 

Ya bisa jadi sebenarnya sang penulis punya makna lain dalam pembuatan film ini, tapi itulah makna yang gue dapat. Dan gue suka sama film ini. :)

So, happy watching!



#OneFilmADay(OrMore)

Posesif !

Teringat waktu gue pertama kali dateng ke Gala Premiere sebuah film.
Waktu itu gue sedang ditengah workshop di daerah Jakarta Selatan, dan tawaran tiket terebut datang tiba-tiba.

Rasanya ?
Gue merasa asing. Berada di lingkungan yang belum gue kenal.
Tapi juga takjub, karena dari gerak gerik tubuh mereka aja gue bisa lihat bahwa mereka sama excitednya dengan gue, meski mungkin alasannya berbeda.

Senang mendengar antusiasme semua orang, baik yang hanya tergila-gila dengan pemerannya, maupun yang memang tertarik membahas dalam segi pengambilan gambarnya.
Oke, sekarang dari sisi konten filmnya.
Filmnya berjudul "POSESIF" yang dimainkan oleh Adipati Dolken dan Putri Marino, dan diproduksi oleh Palari Film. 

source : dokumentasi pribadi

Setelah menonton film ini, gue semacam mengalami disonansi kognitif.
Setting usia pemeran utama adalah usia anak SMA yang hampir lulus dan akan melanjutkan ke ke bangku kuliah. 
Sebagai orang yang pernah melalui masa-masa itu, gue berusaha berempati dengan peran sang tokoh utama. Mencoba menjadi gue semasa SMA dulu.

Tapi ternyata, malah si tokoh utama yang lebih mendalami peran sebagai orang dengan seusia gue. Perasaan dulu gue waktu SMA ngga gitu-gitu amat deh waktu ada di usia mereka. Gue ngga punya pemikiran sejauh itu, ngga senekat mereka, dan juga belum merasakan konflik seperti yang mereka alami.


Lalu gue mengevaluasi diri, 
Antara gue yang emang terlalu kudet dulunya...
Atau kids jaman now yang terlalu canggih dan terlalu cepat dewasa.


Ada beberapa scene yang kemudian membuat gue merasa gagal sebagai lulusan psikologi. Gue masih saja kaget dan kejebak sama scene-scene tersebut, yang padahal sudah dijelaskan di berpuluh-puluh SKS waktu kuliah, dan seharusnya gue sudah menyadari itu dari awal. Anak macam apa saya ini... -_-a

Intinya, gue seharusnya menangkap gejala adanya imitasi dan faktor pola asuh dalam hubungan anak dengan orang sekitarnya, baik itu teman maupun pacar. 

Orang tua si tokoh utama cenderung menggunakan kekesaran untuk menunjukkan bahwa dia menyayangi anaknya, lalu meminta maaf sebagai bentuk excuse. Lalu, si anak yang tidak pernah mendapat kasih sayang dengan "cara berbeda", merasa bahwa itulah satu-satunya cara mengungkapkan kasihnya, yang akhirnya ditiru dan digunakan kepada pacar (pertama)nya.
Menurut gue, salahnya sang pacar adalah menerima tanpa mengingatkan. Berpacaran seperti itu bukanlah pacaran yang sehat sih menurut gue. Yahh, gue mah sotoy-sotoyan aja, karena pengalaman gue juga masih seiprit-iprit. Haha


Tapi kece sih filmnya. Alurnya rapih, kualitas gambarnya setingkat lebih bagus dari kebanyakan film dalam negri. Story linenya ciamik. Salah satu film dalam negri yang cukup oke, yang bahkan belum tayang resmi tapi udah nyabet 10 nominasi di FFI.

Film yang patut ditonton, namun harus hati-hati dalam menyimpulkan pesan yang ingin disampaikan oleh film ini. 



#OneFilmADay(OrMore)