Senin, 24 April 2017

#OneFilmADay(OrMore)

Karena tidak selesai membaca buku 24 wajah Billy dengan alasan "bosan", maka gue juga mengasumsikan bahwa film ini sama membosankannya.
Menonton film Sybil juga agak membuat gue bosan karena ending filmnya yang agak menggantung.

Namun, akhirnya gue memutuskan untuk menonton film ini.

Image result for split poster

Seketika, gue terkesima dengan acting James McAvoy sebagai Barry / Patricia / Dennis / Hedwig / The Beast.
Berbeda halnya dengan actingnya dalam X-Men yang kurang meninggalkan kesan bagi gue; dalam film ini, James McAvoy sangat-sangat mengesankan.

Peran-peran yang dia mainkan sangat detil dengan mimik muka yang mendukung. Gue melihat raut wajah, tarikan garis senyum, kerutan alis mata, dengan garis muka yang berbeda untuk tiap peran yang berbeda pula.
Postur tubuh yang ditampilkan pun berbeda sesuai karakter yang sedang dimainkan.

Satu hal yang gue rasa menjadi ciri khas dari peran Barry ini adalah gagap atau suara terbata-bata yang dikeluarkan di setiap peran, yang menunjukkan bahwa masih ada jiwa Barry dalam peran-peran lainnya.

Hal lain yang menurut gue menarik juga adalah tokoh Casey. Dari awal, gue menebak bahwa Casey (sedikit) memahami "Barry" karena punya fenomena yang sama, atau setidaknya memiliki orang terdekat yang juga mengidap DID.


Hal yang sedikit mengganggu gue adalah scene Hedwig yang menunjukkan "jendela" kepada Casey. Gue merasa scene tersebut sudah pernah diputar di film lain, atau mungkin gue sudah membayangkan scene tersebut sebelumnya (?)


Yah, SPLIT sangat recommended untuk ditonton, terutama oleh mahasiswa Psikologi. Disini kita bisa belajar mengenai mimik muka dan gestur tubuh.




imagesource : google.com

#OneFilmADay(OrMore)

Selasa, 28 Februari 2017

Si Bapak yang Selalu Tersenyum

"Neng, mau ke kampus ya?"
"Enggak, Pak. Mau kerja hehe"

*percakapan diatas sudah hampir beribu kali gue lakukan dengan driver ojek online yang mengantar gue berangkat kerja.

--- 
Namanya Pak Yudi.
Seorang Bapak yang usianya tak jauh dari 40-an.
...

Pagi gue diawali dengan sesuatu yang buruk,
Gue bersyukur tidak diakhiri dengan sesuatu yang juga buruk.

Gue berangkat ke kantor dengan tergesa-gesa.
Kesal dengan jadwal commuter line yang selalu ngaret.
Dengan hati dongkol, gue memasang tampang kusut sepanjang jalan.

Dengan rencana naik ojek online untuk memotong jalan dan menghemat waktu, akhirnya gue turun di Stasiun A.
Karena untuk ke stasiun tujuan yang dekat kantor, gue membutuhkan waktu dua kali lipat dari waktu tempuh gue ke Stasiun A.

Celakanya, setelah gue turun, sinyal hape gue menghilang.
Udah di cari ke kolong-kolong jembatan pun nggak ketemu (boong deng)

Ditunggu semenit, dua menit, sepuluh, lima belas menit, hingga setengah jam.
Gue sudah isi ulang pulsa, dan daftar paket untuk nambah kuota,
gue juga udah restart hape gue, sinyal pun tak kunjung datang.
Kondisi baterai hape gue juga cukup mengenaskan.

Akhirnya dengan berat hati, gue memutuskan untuk naik kereta lagi menuju stasiun dekat kantor.
Sudahlah, toh gue juga sudah terlambat.
Apa bedanya terlambat setengah jam dan terlambat dua jam.

Kemudian, karena di tengah perjalanan akhirnya sinyal hape gue kembali,
gue merasa ada secercah harapan untuk sampai lebih cepat dengan memotong jalan dari Stasiun B.

Sinyal hape aman.
Ojek online sudah dipesan.
Namun cuaca sedikit mendung. 
Dan benarlah, ditengah perjalanan dengan ojek online, akhirnya hujan pun turun.

"Neng, kita turun dulu ya pakai jas hujan", katanya. "Ini sepatunya mau dilepas aja nggak neng? disimpen di jok motor biar nggak basah, kasihan neng".

Gue yang masih kesal tanpa sengaja menyambar, "saya nyeker dong, Pak?!"

"Nanti neng pake sendal Bapak aja. Gapapa. Cowok mah biasa neng nyeker juga." Sambil tetap tersenyum, Bapak tersebut memberikan sendalnya dan mengajak saya bergurau.

Belum hilang kesal saya, lima menit setelah perjalanan dilanjutkan, hujan pun berhenti.
"Wah, hujannya cuman gertakan doang ya neng. Hehe", Si Bapak tetap sabar mengajak saya bergurau.

Saya tetap kesal karena sudah seperti orang konyol sampe copot-copot sepatu segala, pada di daerah kantor saya panas terik.

Si Bapak akhirnya pergi dengan ucapan terimakasih karena saya sudah mau memakai jasanya.
Dan saya tertinggal sendirian dengan merenung.

Ternyata masih ada orang yang sesabar dan sebaik itu. 
Meski saya memulai hari dengan kesal, saya tidak mengakhirinya dengan tetap kesal.

Senin, 20 Februari 2017

:)

... Setiap orang punya kisahnya masing-masing.

... Setiap orang punya kenangannya masing-masing.


Bagiku,
Dia adalah sosok yang sangat ceria.
Selalu bisa menularkan semangat buat semua orang, pun untukku.

Dia selalu tampil dengan senyum merekah.
Menjawab tanyaku dengan nada yang girang.
Si kecil yang lincah dan enerjik.

Tak banyak, tapi selalu hangat.
Kenangan tentangnya berisi diskusi-diskusi tentang masa depan.
"... Nantinya begini, nantinya begitu.
Ingin kesini, ingin kesitu..."

Mendorongku untuk berani mencoba sesuatu yang aku belum tau apa itu.


Terimakasih untuk semangatnya.

Selamat jalan.
Selamat tidur nyenyak.


... Setiap orang punya kenangannya masing-masing.

... Setiap orang punya sedihnya masing-masing.

Minggu, 08 Januari 2017

How to be success!

Stop making an excuse for what you want!

Alasan utama kegagalan adalah karena kita memutuskan untuk gagal dari awal.

Kita merasa kita AKAN gagal.

Kira berpikir kita AKAN gagal.

Maka kita MENJADI seorang yang gagal di mata kita.

---

Alasannya?
 
Aku tidak cukup mampu (capable).
Tidak punya kesempatan.
Terkendala dengan bahasa.
Bukan berasal dari keluarga yang berada.
Tidak dikenal orang.
Bukan siapa-siapa.
Nggak akan didengar orang.

And i can do this for semaleman mungkin...


Jadi, nanti yang akan kulakukan adalah mengurangi berpikir
"Apakah aku harus melakukan ini?" 

Yang biasanya diikuti dengan 
"Kan aku ..."

Dan menggantinya dengan
"I Must Do It! Because ..."


---

So, mari kita lihat kedepan.
Dan kita lakukan.

Wanita-wanita penginspirasi!

Banyak sekali yang terjadi pada gue beberapa bulan kebelakang.
Banyak hal yang gue lihat. Banyak hal yang gue pelajari. Banyak hal yang gue lakukan.
Banyak hal yang gue pikirkan. 

Banyak hal yang ingin gue buat.

Hal itu membuat gue kehilangan minat untuk menulis.
Tulisan-tulisan gue berhenti hanya sampai di ide.

Namun, kemarin gue berkesempatan mengisi waktu libur gue dengan sesuatu yang membuat gue ingin segera menulis.

Gue bertemu dengan beberapa orang wanita.

.
Pertama, seorang wanita yang tampil dengan cukup sederhana. 
Blus, rok denim selutut, sepatu kets, dan di pundaknya disampirkan jaket untuk menghalau dingin. 

Awalnya gue tidak tau apa yang akan beliau sampaikan.
Tapi akhirnya, gue terkesima.
Alih-alih presentasi atau menjadi motivator, she shared stories.

Gue amazed karena beliau bekerja tidak asal berkarya, namun juga dapat menyajikan dengan baik, cerita di balik semua mimpinya di masa lalu.
Beliau juga merupakan orang yang cukup vokal. Berani merasa benar, dan karena memang beliau benar. Berani menegur yang salah. Berani berkata tidak. Berani mengambil resiko.

I wonder, akankah gue punya stories-behind-me, just like her.


.
Kedua, seorang wanita yang gue rasa memiliki consciousness yang tinggi.
Mini dress dan kets. Gue selalu suka style ini. Menampilkan bahwa gaya pun bisa tidak merepotkan. Well, mengingat adanya jargon beauty is pain...

Beliau banyak bertanya. Beliau banyak ingin tahu (dan menjelaskan alasan dibaliknya). Beliau cukup banyak mencecar. Namun beliau juga cukup banyak memberi support.
Dari beliau, gue diingatkan kembali bahwa gue harus bisa memulai. 
"Apa yang salah dengan mencoba?"

Gue melihat setitik jiwa gue didalam beliau. Banyak ingin tahu, namun lebih karena peduli atau memang penasaran, dan bukan asal kepo atau ingin mengumpulkan bahan untuk mencerca.

I wonder, akankah gue bisa sevokal beliau dalam mempertanyakan segala hal (just want to make sure gue jelas dengan segala hal tersebut).


.
Ketiga, seorang wanita yang melewati banyak proses, sehingga akhirnya menghargai mereka yang ingin berproses.
Kemeja santai, jeans, kets. Dengan semacam no-make up-make up-but-smile :) .

Pertemuan dengan wanita ini bukan yang pertama. Namun, ini kali pertama gue melihat dia berbicara di depan dengan sepenuh jiwa. Dia tidak berbicara dengan semangat yang berapi-api. Dia tidak menggunakan nada suara yang naik sekian oktaf. Dia tidak menyampaikan materinya dengan menggebu-gebu. 

Justru sebaliknya, dia berbicara cukup perlahan, dengan nada 1 oktaf lebih rendah, untuk memastikan apa yang dia sampaikan benar-benar dapat diterima dengan baik oleh audience. Berbicara dengan mata berbinar, dan napas yang menderu, dengan suara yang tercekat. 

Mendengar sedikit proses yang dia lalui, dan pencapaiannya saat ini, gue merasa salut bahwa dia berani keluar dari zona nyamannya.

I wonder, akankah dengan proses yang gue lalui sekarang, gue bisa menjadi speaker sepertinya.

.
Sebagai tambahan, dalam kegiatan tersebut, gue melihat 19 orang yang usianya tak jauh beda dari gue, memiliki mimpi yang tak jauh beda dari gue, tapi memiliki usaha yang 2, 3, bahkan 4 langkah lebih jauh dibanding gue. Mereka memulai dari hal yang kecil. Dari lingkungan terdekat mereka. Dari 1 tantangan kecil, dan dari 1 minggu pertama. Gue amaze dengan hasil yang mereka capai, sedang gue belum apa-apa.

.
Untuk itu, sekarang ini gue harus mulai memikirkan dengan benar. Mimpi apa yang ingin gue capai? 1, 5, 10, 20 tahun lagi. Akan jadi apa gue? Akan jadi seperti apa gue ingin dilihat orang?

... Dan yang terpenting, bagaimana gue akan mencapainya!




- Karena hanya ada 3 hal yang menghambat kita : SUNGKAN, GENGSI, DAN JAIM. -
LC

Senin, 17 Oktober 2016

IRONI

DUK.
"Aduh, Nak. Hati-hati dong kalo main sepeda, jatuh kan. Udah deh, gausah mainan sepeda lagi. Sepedanya mama simpen ya. Bahaya!"
.
.
.
Lalu kemudian, sang anak kehilangan kesempatan untuk belajar mengendarai sepeda. 

------

Kalau memang demikian prinsipnya,

Maka mereka yang tersedak makan nasi,
kemudian tidak boleh lagi makan nasi.
.
Mereka yang mendapat nilai jelek saat ujian,
tidak boleh lagi belajar.
.
.
.
Dan mereka yang jatuh,
tidak boleh lagi berjalan.

Rabu, 28 September 2016

[Jika Aku...]

Jika aku mati nanti ...
Sudahkan banyak yang merasa kehilangan?
Sudahkan banyak yang datang tanpa terpaksa?

Jika aku mati nanti ...
Apakah yang akan mereka ingat?
Apakah semua yang baik dariku? atau tidak?

Aku tahu, aku akan mati jika tugasku sudah selesai.
Aku tahu, aku akan mati jika Dia sudah merasa cukup.

Tapi aku tak ingin mengerjakan cukup.
Aku ingin mengerjakan lebih.
Dipakai lebih.

Sehingga matiku membuat banyak orang senang.
Bahwa Dia mau memakai hidupku, dan hidup lebih banyak orang.