Aku melihat betapa pilunya penyesalan dimatanya,
ketika menyadari bahwa adiknya pergi,
tanpa kembali menerima kasih Tuhan.
Aku tak mau merasakan pilu yang sama,
ketika teman-temanku kemudian pergi,
tanpa lebih dulu mengenal kasih Tuhan.
Rabu, 10 Februari 2016
Minggu, 07 Februari 2016
Persepsi
Manusia berpegang pada persepsi.
Seringkali, manusia hanya melihat apa yang ingin mereka lihat,
dan mengabaikan hal-hal lain yang tidak penting menurut mereka.
Tak jarang, manusia juga hanya mendengar apa yang ingin mereka dengar,
dan melupakan alasan atau pernyataan lain yang susah payah dijelaskan.
Manusia juga kadang membuat dirinya sakit,
dengan memikirkan apa yang hanya ingin mereka pikirkan.
Berharap pada sesuatu yang belum pasti akan terjadi.
Hal itu mungkin menyakiti diri mereka sendiri,
dan juga orang lain.
Karena pada dasarnya, persepsi tiap orang tidaklah sama.
Seringkali, manusia hanya melihat apa yang ingin mereka lihat,
dan mengabaikan hal-hal lain yang tidak penting menurut mereka.
Tak jarang, manusia juga hanya mendengar apa yang ingin mereka dengar,
dan melupakan alasan atau pernyataan lain yang susah payah dijelaskan.
Manusia juga kadang membuat dirinya sakit,
dengan memikirkan apa yang hanya ingin mereka pikirkan.
Berharap pada sesuatu yang belum pasti akan terjadi.
Hal itu mungkin menyakiti diri mereka sendiri,
dan juga orang lain.
Karena pada dasarnya, persepsi tiap orang tidaklah sama.
Sabtu, 06 Februari 2016
#OneFilmADay(OrMore)
Pengalaman bekerja di belakang layar membuat acara-menonton-film gue tak lagi sama.
Saat menonton film, gue sering me-notice hal-hal yang terlihat janggal, dan akhirnya mood menonton gue berganti menjadi kritikan terhadap proses pengambilan gambar yang terjadi.
Terutama terhadap film-film garapan dalam negri yang menghabiskan banyak sekali biaya, namun hasilnya tak sebanding.
Gue sedikit kesal dengan mereka yang menggunakan artis papan atas, tapi ternyata membawakan alurnya dengan kurang pas.
Atau mereka yang bahkan menggunakan setting mancanegara, tapi bahkan tidak bisa mempertahankan konsistensi dalam menggambil gambar atau melupakan hal-hal detil yang gue rasa sangat mengganggu.
Sedih rasanya, kalau untuk mengemas drama ecek-ecek, diikuti dengan penggunaan biaya yang sebegitu besarnya.
Sedang gue dan teman-teman, bahkan tidak memiliki sponsor satupun yang akan membiayai pembuatan film yang kami rasa konsepnya akan lebih berbobot.
Heuu~
#OneFilmADay(OrMore)
... dalam sesi kesekian
“you ever wonder what your life would be like if you never
met your wife?”
“ ... cause you’ll have bad times, but that’ll allways wake you up to the good stuff you weren’t paying attention to.”
“and you don't regret meeting your wife?”
“ why? Cause the pain i feel now?
Oh i get regrets, Will. But i dont regret a single day i spent with her.”
...
Masih tetap mengagumi pola pikir Sean yang dalam, dan menyentil.
:)
#OneFilmADay(OrMore)
W : “but this girl is like, you know, beautiful. She’s different
from the most of the girls i’ve been with.”
S : “so call her up, romeo”
W : “why? So i can realize she’s not that smart? That she’s
fuckin’ boring? You know, i mean... this girl is like fuckin’ perfect right
now. I dont wanna ruin that.”
S : “maybe you’re perfect right now. Maybe you don't wanna ruin that ...
You’re not perfect, sport. This girl you met, she isn’t
perfect either. But the question is whether or not, you’re perfect for each
other. That’s the whole deal. That’s what intimacy is all about.”
Beberapa hari yang lalu, gue menonton sebuah film berjudul Good Will Hunting yang diproduksi pada tahun 1997.
FIlmnya dibuat dalam setting akademik yang bercerita mengenai seorang anak yang genius secara otodidak; namun memiliki masa lalu yang sedikit kelam.
Kali pertama menonton, gue langsung suka pake banget sama filmnya karena ada tokoh yang berperan sebagai seorang psikolog.
Gue tahu beliau menyalahi kode etik yang berlaku dalam praktiknya, namun ternyata proses yang dia lakukan cukup berhasil.
Gue jadi pengen seperti beliau yang dapat menentukan kapan harus melakukan apa dengan bijak.
Dan kadang gue jadi pengen seperti Will, yang akhirnya menyerah pada materi dan tuntutan sosial demi mengejar impiannya yang lain; impiannya yang lebih besar.
#OneFilmADay(OrMore)
Mencinta,
Aku mengapresiasi para pujangga, yang dapat dengan jujur bermain kata.
Semua kesatria gagah yang rela melemahkan diri.
Semua orang yang berani untuk mencintai dengan tulus.
Karena keputusan untuk mencintai adalah keputusan yang cukup berat.
.
Bagiku, mencinta adalah perkerjaan yang terberat.
Ketika kamu BERANI membagi hidupmu, dan tanggung jawabmu, dan hakmu,
dan hidupmu pada orang lain;
yang belum tentu akan memutuskan bersamamu seumur hidupnya.
.
Mencinta adalah sesuatu yang sakral dan serius.
Orang yang mampu mencinta dan dicinta oleh orang yang sama,
berarti adalah dia yang sudah memiliki kedewasaan yang sebegitu hebatnya.
Mampu mengambil keputusan yang mungkin akan dia syukuri atau sesali sepanjang hidupnya.
.
Mencinta,
Bagaimana manusia meramu kognisi dan afeksi menjadi satu, dengan komposisi yang harus pas persis bagi keduanya.
Tak boleh lebih meski setitik, dan tak boleh kurang pun.
.
Mencinta yang dewasa,
adalah tentang mereka yang berani membagi pikirannya, membagi rencananya dan ketakutannya, membagi waktunya, dan membagi hatinya.
Pada seseorang yang belum tentu akan memutuskan untuk tinggal seumur hidupnya.
Tinggal dan dikekang oleh segala ketidakpastian arah.
Berselimutkan gelap, dan bermandikan kekhawatiran.
.
.
.
ps : Aku masih belum mengerti bagaimana mencinta yang sebenarnya,
tapi akan selalu ada kali pertama untuk mencoba.
dan waktuku sudah tiba.
Semua kesatria gagah yang rela melemahkan diri.
Semua orang yang berani untuk mencintai dengan tulus.
Karena keputusan untuk mencintai adalah keputusan yang cukup berat.
.
Bagiku, mencinta adalah perkerjaan yang terberat.
Ketika kamu BERANI membagi hidupmu, dan tanggung jawabmu, dan hakmu,
dan hidupmu pada orang lain;
yang belum tentu akan memutuskan bersamamu seumur hidupnya.
.
Mencinta adalah sesuatu yang sakral dan serius.
Orang yang mampu mencinta dan dicinta oleh orang yang sama,
berarti adalah dia yang sudah memiliki kedewasaan yang sebegitu hebatnya.
Mampu mengambil keputusan yang mungkin akan dia syukuri atau sesali sepanjang hidupnya.
.
Mencinta,
Bagaimana manusia meramu kognisi dan afeksi menjadi satu, dengan komposisi yang harus pas persis bagi keduanya.
Tak boleh lebih meski setitik, dan tak boleh kurang pun.
.
Mencinta yang dewasa,
adalah tentang mereka yang berani membagi pikirannya, membagi rencananya dan ketakutannya, membagi waktunya, dan membagi hatinya.
Pada seseorang yang belum tentu akan memutuskan untuk tinggal seumur hidupnya.
Tinggal dan dikekang oleh segala ketidakpastian arah.
Berselimutkan gelap, dan bermandikan kekhawatiran.
.
.
.
ps : Aku masih belum mengerti bagaimana mencinta yang sebenarnya,
tapi akan selalu ada kali pertama untuk mencoba.
dan waktuku sudah tiba.
jalan malam
Tengah malam adalah saat yang tepat untuk berdiam diri dan membaca atau berpikir.
Setelah hampir sekian lama tidak membuka laman jejaring sosial dengan benar, maka malam ini saya sempatkan untuk melihat-lihat apa yang sedang hangat di laman facebook saya.
Kemudian, saya menemukan laman yang menarik untuk dibaca.
Link pertama bercerita mengenai 33 hal yang khas dari kehidupan mahasiswa Psikologi.
Setelah membaca artikel tersebut, respon saya adalah, " ahhhh. akhirnya ada yang mengerti kenapa kami bertingkah laku seperti ituuu."
Singkat cerita, saya pernah berargumen dengan seorang teman (non-psikologi) yang mengatakan bahwa mahasiswa psikologi selalu merasa bahwa ilmu kami paling benar dan tidak mau disalahkan, serta tidak bisa tegas dalam memilih sesuatu. Padahal, saya hanya berusaha bersikap objektif dengan memberi berbagai pandangan yang mungkin untuk menjadi pilihan.
Akhirnya, argumen diakhiri oleh lawan bicara saya dengan pernyataan, "iya deh, terserah lu...".
Selanjutnya link kedua bercerita mengenai manusia unik yang ekstrovert sekaligus introvert. Lagi-lagi, respon yang sama muncul setelah membaca artikel ini, "naaah ini niihh..."
Hang-out-bareng-teman sampai saat ini masih memiliki kedudukan yang setara dengan ngendon-di-kosan-sambil-internetan. Kedua hal tersebut bisa jadi sama menyenangkannya, sekaligus sama melelahkannya.
Setelah hampir sekian lama tidak membuka laman jejaring sosial dengan benar, maka malam ini saya sempatkan untuk melihat-lihat apa yang sedang hangat di laman facebook saya.
Kemudian, saya menemukan laman yang menarik untuk dibaca.
Link pertama bercerita mengenai 33 hal yang khas dari kehidupan mahasiswa Psikologi.
Setelah membaca artikel tersebut, respon saya adalah, " ahhhh. akhirnya ada yang mengerti kenapa kami bertingkah laku seperti ituuu."
Singkat cerita, saya pernah berargumen dengan seorang teman (non-psikologi) yang mengatakan bahwa mahasiswa psikologi selalu merasa bahwa ilmu kami paling benar dan tidak mau disalahkan, serta tidak bisa tegas dalam memilih sesuatu. Padahal, saya hanya berusaha bersikap objektif dengan memberi berbagai pandangan yang mungkin untuk menjadi pilihan.
Akhirnya, argumen diakhiri oleh lawan bicara saya dengan pernyataan, "iya deh, terserah lu...".
Selanjutnya link kedua bercerita mengenai manusia unik yang ekstrovert sekaligus introvert. Lagi-lagi, respon yang sama muncul setelah membaca artikel ini, "naaah ini niihh..."
Hang-out-bareng-teman sampai saat ini masih memiliki kedudukan yang setara dengan ngendon-di-kosan-sambil-internetan. Kedua hal tersebut bisa jadi sama menyenangkannya, sekaligus sama melelahkannya.
Langganan:
Postingan (Atom)