Sabtu, 07 Februari 2015

Akhirnya, "Dibalik '98"...

Bagi gue, pemilihan sebuah judul sangat berpengaruh kepada minat nonton masyarakat Indonesia. Emang sih banyak hal lain yang menjadi pertimbangan buat memilih film, seperti siapa director-nya, cast-nya, genre, kemudian barulah sinopsis. 
Tapi selain itu, judul juga penting!


Pertama kali ngeliat trailer film ‘Dibalik 98’, gue merasa tergugah melihat perjuangan seorang mahasiswi dalam menuntut apa yang menurutnya benar. Rasa penasaran gue memuncak setelah melihat judul filmnya. 

Bagi masyarakat awam, judul tersebut seperti menyimpan banyak misteri dibalik sebuah perjuangan yang nyata. Dan dibalik sebuah rahasia pasti ada kebenaran atau ketidakadilan. Maka, sebelum filmnya di-banned, gue sangat ingin menonton filmnya.


Fyi, sebagian besar Januari gue dihabiskan dengan KKN di Ciamis dengan kehidupan yang sedikit lebih terbatas, terutama internet. Maka sepertinya akan sangat susah bagi gue buat nonton di bioskop. Tapi akhirnya Minggu kemaren, kami (gue dan temen-temen gue), pergi ke sebuah mall di daerah Tasik, dan akhirnya kesampaian juga buat menyambangi bioskop dan melunturkan hasrat menonton disana.


Dari segi sinematografi, gue menganggap filmnya lumayan bagus, dengan sound effect yang berdentum dengan pas (apa karena efek suara bioskop, yak? haha). Pengambilan gambarnya pun tidak monoton, mereka mencoba mengambil gambar menggunakan ketinggian kamera yang rata-rata dada, sehingga tidak melulu detail muka yang terlihat; tapi tetap jelas terungkap moment yang ingin disampaikan. Meski ada beberapa transisi yang agak patah dan sedikit mengganggu, tapi secara keseluruhan, film ini bagus.

Hanya, menurut gue, gue merasa kecewa dan dibodohi. Ketika yang gue terima tidak seperti yang gue harap gue terima. Seperti yang tadi gue sudah sebut diatas, awalnya gue sangat menggebu-gebu ingin menonton. Tapi setelah keluar, gue merasa lemas. Ternyata film yang gue tonton hanyalah film fiksi yang mengangkat tema romance, dan family. Gue merasa tidak sepenuhnya mendapatkan semangat ‘98 yang dijanjikan di trailer. Dan tidak ada misteri dibalik judul yang diberikan. Semacam membeli sebungkus angin dengan label kacang telur.

Mungkin pembelajaran buat gue, lain kali, jangan ingin buru-buru nonton ini itu dulu, tapi coba cari sinopsis dan review dari orang yang sudah pernah menontonnya. Agar tidak makan kacang rasa angin...

Mengenang MIBA (se)tahun lalu :)

Berhubung di post sebelumnya udah dibahas mengenai sekilas perjalanan MIBA ke Jogja, sekarang gue mau ngepost tentang perjalanan MIBA yang sebenernya setahun kebelakang.
Di mulai dengan pemilihan anggota yang membutuhkan sangat banyak pertimbangan (lebay deng :p), maka pada tanggal 1 Januari 2014 diumumkanlah nama-nama anggota MIBA yang terpilih untuk menjabat selama setahun kepengurusan.
 
Musyawarah Mahasiswa Awal Tahun 2014


Kemudian, setelah beberapa kali berembuk, jungkir balik sana sini (ini lebay) akhirnya ter-sah-kan-lah beberapa proker yang dibawahi oleh MIBA baik secara langsung maupun tidak langsung. Dimulai dari Study Break, proker KK Musik; Demo KK untuk memperkenalkan Kelompok Kegiatan yang ada di Fapsi Unpad; OMPSI, sebulan-olahraga-&-seni-nya Fapsi Unpad; Makrab KK; hingga 3ON3, prokernya KK Basket; dimana idealnya diiringi dengan pengontrolan seluruh KK selama setahun penuh. Oiya, jangan lupa juga kalo MIBA bantu ngurusin FORSI yang sedikit banyak sangat susah di handle!



Open House BEM 2014

Team Building 

Little Project 2014


Study Break 2014


Olimpiade Psikologi 2014

Malam Keakraban KK 2014

Psyaward 2014

Sebenernya kalo dilihat secara sekilas, Departemen Minat dan Bakat ini bisa dikatakan departemen yang menarik peminat cukup banyak. KATANYA SIH ... karena prokernya seru-seru, jadi pada pengen ikut andil bantu di belakang layar. Mereka nggak tahu aja tuh bahwa sebenernya proses di belakang layar nggak semudah kelihatannya.

Radept kami hampir selalu diadakan malam hari berhubung kesibukan anak-anak MIBA yang ngga abis-abis. Bahkan juga pernah rapat hingga sahur hanya untuk menyelesaikan agenda di satu rapat. (Maaf ya pak ketua, melanggar aturan rapat haha)

Tapi sebenernya ngga seburuk itu sih kerja di MIBA. Terutama kerja bareng mereka ber-5 dengan bantuan sangat-banyak-sekali-civitas dalam persiapan maupun proses pelaksanaannya. Makasih makasih *terharu* :’)


Buka kartu lagi nih, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, di tahun ini pun gue rasa anggota MIBA cukup bersemangat dan sangat gerak cepat, juga bisa diandalkan. Buktinya berbekal sebuah fenomena ‘kampus sepi yaa...’, akhirnya tercetuslah sebuah proker dengan PERSIAPAN KURANG DARI 2 MINGGU!

Senandung Plaba

Proker kecil-kecilan ini, meskipun masih banyak kesalahan di sana sini, dengan hanya tenaga kami ber-6, lumayan sukses bikin orang-orang (yang hadir) bahagia menurut gue. Dan pada intinya, kerja kami memang tentang membuat orang lain berbahagia dengan apa yang mereka sukai dan dengan apa yang mereka bisa.


Gue harap sih, sesuai tujuan departemen ini, anggota MIBA pun berbahagia menjadi bagiannya. Berbahagia saat menjalankan program kerjanya masing-masing. Berbahagia menghadapi kesel-senengnya radept ampe malem yang kurang efektif efisien tapi penuh ama banyolan anggota-MIBA-minus-gue-karena-gue-gabisa-ngelawak. Haha Tidak lupa juga lebih berbahagia saat akhirnya menyelesaikan setahun kerja bareng kami dengan peluh yang bercucuran. ;’)

Makasih setahun barengnya. Makasih udah menjadi bagian dari MIBA. Makasih udah mau bekerja lebih dari yang diharapkan hanya dengan berbayaran sebuah pengakuan dan selembar sertifikat. Makasih udah jadi diri masing-masing yang saling melengkapi satu sama lain!

Gue bangga sama kalian, dan gue sayang sama kalian. ({})


Ps : tadinya postingan ini gamau dibawa menye, tapi udah terlanjur. Yaudahlahyaa, dinikmati ajaa hehe

Sampai berjumpa di liburan selanjutnyaa :)

Senin, 02 Februari 2015

Ketika mereka menunjukkan punggung yang kokoh,
aku pun akan membalas dengan punggung yang tegar.

Selasa, 20 Januari 2015

Sekelebat Jogja bersama MIBA

Mungkin memang butuh banyak wacana untuk mengubah rencana menjadi pengalaman.

'Libur bareng MIBA' memang sudah diagendakan sejak lama. Namun kegiatan tersebut pun baru terlaksana beberapa hari SETELAH kami turun jabatan!

Dengan nekat dan 'asal nyeplos', akhirnya kami memutuskan untuk berlibur ke Jogja selama 3 hari, dengan menggunakan bis. Afan sudah lebih dulu berangkat ke Jogja karena ada acara keluarga, sehingga tinggallah kami ber5; gue, Icha, Gita, Bhagas, sama Mario.



Perjalanan di bis memakan waktu sekitar 14 sampai 15 jam, dan kami sampai di Stasiun Jombor jam 6 pagi. Belum berhenti disitu, kami menempuh 15 menit dengan trem (semacam Babon) dan lanjut berjalan kaki selama 2 jam-an untuk sampai di rumah Afan di daerah Tirtodipuran, tempat kami menginap.


Sayangnya, cuaca sedang tidak mendukung!
seharian mendung, juga gerimis, dan bahkan hujan deras ngga bosen buat turun menyapa.
Tapi hujan nggak bikin kami ciut buat jalan-jalan. Kami tetep nekat pergi makan gudeg di daerah depan kehutanan UGM, juga makan Mi Jawa di sekitar daerah rumah Afan.


Kayaknya emang anak-anak MIBA ngga punya kapasitas yang cukup buat bikin rencana yang mateng deh haha ada aja hambatan tak terduga. tapi kami selalu bisa bikin plan B ato plan C dengan (lumayan) cepat!

yang tadinya kami berencana pengen pergi ke pantai, terus jalan-jalan ke Kaliurang buat ikutan LavaTour, akhirnya harus diganti dengan pergi ke Borobudur dan Malioboro.
Tentu aja disitu ujan juga ngga bosen-bosennya dateng.



Terus, dihari ketiga, kami jalan-jalan ke alun-alun sama ke Keraton.


Meskipun ada beberapa tempat yang ngga sempet dikunjungi, tapi liburan kali ini tetep (SANGAT) menyenangkan.
Pertama, karena akhirnya JADI liburan bareng.
Kedua, karena liburannya bareng mereka.

Iya, kan. Bukan tentang 'kemana'-nya, tapi tentang bersama 'siapa'-nya.
:)


ps : Jogja sekarang sudah lebih maju dari yang gue inget. Terakhir kesana sekitar tahun 2010 dan Jogja belum punya flyover. (Ato guenya yang nggak tahu?)
Terus, Jogja yang sekarang masih sama asri-nya sama Jogja yang dulu gue inget, lebih bersahabat daripada Jakarta. Yah, dulu gue masih kecil sih waktu tinggal di Jogja, belum ada umur 5 tahun, tapi seenggaknya ada beberapa scene yang gue inget dari Jogja tempo dulu.

Semoga Jogja tetap adem dan asri, ya!
Semoga bisa berkembang maju dan pesat!

Dan semoga MIBA bisa jalan bareng lagi di tahun-tahun berikutnya! :)

Selasa, 06 Januari 2015

coba berkaca (?)

Pernahkan kamu bangun dari tidurmu, dan mendapati mereka semua berbeda?
Mereka tidak lagi menjadi orang yang kamu kenal.
Mereka tidak lagi bertingkah laku sama.

Dan mereka tidak juga memandangmu sebagai orang yang sama.

Bahkan kamu tidak lagi mengenal mereka.
Mereka berbeda, pola pikir dan tingkah laku mereka pun begitu.

Mungkinkah, ini hanyalah masalah sudut pandang?

Mungkinkah, kita yang berubah?
Pola pikir kita yang sudah tak sama.
Dan kita berubah menjadi orang yang berbeda.

*berpikir keras*

"Sudahkah saya sampai pada titik dimana segala sesuatunya berubah menjadi sebuah formalitas belaka? Rutinitas semata?

Tidak ada yang berbeda, selain jarum jam yang terus berdetak, kertas kalender yang semakin habis, dan orang-orang yang memutuskan untuk terus menghambur demi tawa palsu.

Kebahagiaan semu, yang bahkan mereka sadari, sudah tak lagi bisa didapat hanya dengan besaran rupiah semata."



***
Ketika orang banyak sedang berbahagia menyambut 'Tahun Baru' dengan kembang api, petasan, kumpul bersama hingga lewat tengah malam, kemudian dilanjutkan dengan membuat resolusi (dimana sepertinya tidak semua resolusi ditahun lalu berubah dari wacana menjadi pengalaman); yang gue lakukan hanyalah ikut serta menjadi penonton.

Melihat, tidak ada yang 'terjadi' setelah jam menunjukkan pukul 00.00 WIB.
Mengingat, tidak ada yang berubah sepanjang tahun yang lalu.

Saat itu, gue berpikir, "apa yang salah dengan gue? gue tidak merasakan apa yang orang lain rasakan".
Kemudian, gue bertanya, "apakah gue harus 'sama' seperti yang lain?"


Gue merasa palsu...

Senin, 05 Januari 2015

enjoy your life!

Dalam sebuah pemikiran, saya dapat mengambil kesimpulan bahwa inti dari hidup adalah menghidupinya untuk masa ini.

Ketika kita hidup, pikirkanlah apa yang kamu lakukan untuk saat ini.
Pikirkan dampaknya untukmu saat ini.
Untuk sekelilingmu saat ini.

Karena tak ada yang akan terkenang darimu kelak.

Ketampananmu akan luntur. 
Pikiranmu akan memudar.
Wibawamu akan habis dimakan waktu yang kelelahan.
Bahkan namamu, akan hilang pula ketika mereka yang mengingatmu juga pergi.

Lalu apa yang tersisa?
Tidak ada!


Maka, dapat saya simpulkan...
bahwa silahkan melakukan apapun untuk hidupmu.
dan nikmatilah.

Karena apa yang tersisa dari jalan hidupmu, yang abadi, hanyalah kenanganmu sendiri.