Selasa, 11 September 2012

saya tidak mengeluh

mungkin dulu...
aku hanya bisa diam saat merasa senang
bahkan diam disaat merasa sedih
juga diam disaat merasa tertekan

seperti angin yang tak terlihat
aku pengen mengetahui segala hal
aku pengen mengerti semua orang
tanpa harus capek-capek mencari tau
tanpa harus susah-susah menghindari tatapan semua orang 

tapi mungkin saat ini...
aku sadar kalo aku punya mulut yang bisa dipakai untuk berbicara
aku juga punya tangan untuk mengacung
aku bahkan punya badan untuk bergerak

aku hanya pengen dunia ikut seneng saat aku sedang seneng
hanya pengen dunia menghibur saat aku sedang sedih
aku juga pengen dunia ngerasaain kalau aku menjadi kuat disetiap harinya
menjadi lebih kuat disetiap kejadian yang dia berikan

seperti angin yang tak terlihat
tapi bisa menghantarkan sejuk di kala panas datang
yang bisa tetap menyambut rumput bergoyang dipagi hari
yang bisa menghubungkan semua sukacita menjadi suatu yang hangat 

aku ingin jadi seperti angin
yang meski tak terlihat, tapi kita tahu dia ada
yang memang tak dapat disentuh, tapi kita merasakan keberadaannya
menghantarkan semua perasaan keluar masuk

ya, seperti angin 
kamu tak perlu tahu aku ada
cukup kamu sadari bagaimana perasaanku
seberapa tulus aku menunggu
dan seberapa kuat aku bertahan
cuma itu...

Minggu, 09 September 2012

ini jawabannya

sahabat itu...
seperti angin
kalo ngga ada angin, saya ngga bisa napas
kalo ngga bisa napas, saya ngga bisa hidup
kalo saya ngga hidup, saya akan mati

tapi angin tidak hanya sebatas itu saja
angin juga bisa menghembuskan (segelintir) kebahagiaan
atau menghembuskan kesenangan
dan juga menghembuskan rasa-rasa yang lain


nb : akhirnya ditemukan.
sumber : video LP 2011

Sabtu, 08 September 2012

ini namanya tulus

aku menyukainya
setiap kekonyolan yang ia lakukan
setiap kehebohan yang ia tunjukkan
semangat yang selalu ia tularkan
canda tawa yang tak pernah lepas dari bibir 
keisengan-keisengan kecil yang meski menyebalkan, tapi tak kuasa mengulum senyum

aku menyukainya
ya dan dia berubah. dan aku tetap menyukainya
aku menyukai tiap tindak gentlenya, memberikan tempat duduknya untukku
membiarkan aku bengong sendirian dipojokan sedang ia menyusun kembali barang-barang berat yang berantakan
menanyakan kembali keadaanku dan memastikanku baik-baik saja

mereka bilang dia berubah
tapi aku masih menyukainya
tampak tegas dengan semua alasan-alasan konyolnya
terlihat masa bodo di depan semua orang, tapi memberikanku tumpangan saat malam datang
atau mencarikanku tumpangan saat dia sedang sibuk
tak membiarkanku untuk sekalipun hilang dari pengawasannya

mungkin dia memang berubah
tapi aku makin menyukainya
andai ada audisi untuk menjadi seorang kakak, dialah yang akan menjadi pemenang dihatiku :)

Jumat, 07 September 2012

si lemot belajar empati


saya tidak bisa; saya tidak tahu caranya; atau saya tidak mengerti.
adalah beberapa kata yang kerap diucapkan oleh orang-orang yang tidak mau mencoba seperti saya ini.
padahal, "bagaimana kamu bisa tahu itu semua sebelum mencobanya?"

malam ini, saya diajarkan untuk mulai berpikir bagaimana caranya untuk peka dan mulai melakukan hal-hal yang selama ini tidak saya lakukan
seperti mulai bersimpati dengan orang lain, yang selama ini tertunda

pemikiran itu selalu ada, "saya tidak bisa melakukannya, harusnya mereka mengerti saya"
tapi yang selama ini dunia sedang coba sampaikan kepada saya adalah, "kamu harusnya bisa beradaptasi dengan lingkungan, karena lingkungan tidak mungkin beradaptasi denganmu"

lalu ketika kamu tidak bisa melakukan suatu hal, akankah kamu terus menghindar dan melarikan diri darinya?
tidakkah kamu ingin bisa menghadapinya suatu saat?
tidakkah kamu ingin berkata, "akhirnya saya bisa menaklukan hal yang selama ini saya takuti! dan saya bangga menjadi diri saya sendiri"

untuk saya pribadi, mulai hari ini saya akan berusaha menghadapi ketakutan saya
karena saya ingin merasakan perasaan bangga terhadap diri sendiri.

dan sejauh yang saya tahu, seseorang tidak dapat dikatakan baik ketika dia dibanding-bandingkan dengan orang lain.
tetapi, seseorang dikatakan baik apabila ia yang sekarang tidak lagi selemah ia yang dulu.

Kamis, 06 September 2012

dari mereka yang (tampak) eksklusif

kemaren malem, gue terlibat pembicaraan yang seru sama senior yang belum terlalu lama gue kenal. jadi awalnya setelah para senior ini ngebesarin hati gue (yang gangerti, baca postingan sebelumnya yaa), mereka ngajak gue ngobrol lebih lanjut.

langsung aja gue keinget tentang malam sebelumnya. gue sangat tidak nyaman ngobrol dengan beberapa orang yang gue anggap meng-eksklusif-kan diri mereka. sampai-sampai gue cuman diem dan berusaha menjadi pendengar yang baik buat mereka (yang mungkin tidak menyadari keberadaan gue pada saat itu).

berbeda dengan malam sebelumnya, malam itu gue nyaman ngobrol sama senior-senior gue yang ini (mungkin karena mereka yang dari awal udah welcome banget ke gue) sehingga gue nggak masalah ngobrol lama-lama sama mereka.

lalu, dari pembicaraan sederhana tentang beberapa organisasi, tiba-tiba ada satu senior yang mengalihkan topik. gue aja udah lupa gimana caranya gue deket sama senior yang satu ini, bahkan dari awal gue sama sekali engga kenal dan canggung banget kalo ngomong sama dia. dia nanya-nanya beberapa hal ke gue yang gue jawab seadanya.

oke gue cerita dikit tentang senior yang satu ini. kalo dilihat dari luar, dia orang yang menganggap dirinya cool, meng-eksklusifkan dirinya sendiri, dan bebas berpendapat ke semua orang. bahkan sampai ada temen gue yang ngeri kalo deket-deket sama dia. yang sebel sama dia juga nggak sedikit. 
tapi yang gue tangkep dari pembicaraan gue dengan dia, dia adalah orang yang sangat pemilih mencari teman. dan ketika dia deket sama orang, dia akan bener-bener peduli sama orang ini dan ngebelain mereka.

gue udah lupa apa aja yang dia tanyain ke gue, tapi pembicaraan kami menyadarkan gue tentang satu hal, adil itu tidak selalu seimbang. pertemanan itu bukanlah take and give yang seimbang. tapi take and give yang sesuai kebutuhan masing-masing pihak. intinya kalo lu mau temenan sama orang, kalian gaakan ngasih effort yang sama biar adil, tapi effort yang sesuai kebutuhan sejauh mana kalian mau mengenal teman kalian ini.


yak dan semakin hari, semakin gue diajak mikir oleh seisi dunia. selamat berpikir dan menyadari sesuatu :)

Rabu, 05 September 2012

hari esok punya kesusahannya sendiri

hari baru, memang cerita baru ...

beberapa hari ini adalah hari yang menyibukkan memang. 
pikiran bercabang-cabang dan saling tumpang tindih meminta untuk diprioritaskan.

tapi tentu saja hari ini dan hari kemarin berbeda.
kalau kemarin pikiran belibet hari ini juga pikiran gue tetep belibet.
tapi bedanya, hari ini (meski bukan pencerahan) gue mendapatkan dukungan dari orang-orang sekitar gue (yang gue kira nggak peduli, tapi ternyata mereka ngasi respon yang nggak gue duga :) )

jadi gini ceritanya ...
gue sedang diberi tanggung jawab oleh seorang senior untuk menggantikan tugasnya sementara. karena gue tahu senior gue ini lagi sibuk-sibuknya, gue bersedia ngebantuin. selain itu, sedikit banyak gue juga punya andil dalam tugas itu.

tapi kemudian ada sedikit masalah dan gue berusaha untuk menyelesaikannya semampu gue dengan informasi yang  gue punya (yang ternyata ngga banyak). antara bingung dan takut sih sebenernya. 
disatu sisi, gue ngerasa masalah gue yang paling banyak dan butuh back up-an orang lain. tapi disisi lain, ternyata senior gue jauh lebih sibuk dan banyak pikiran daripada gue. maka dari itu, kerjaan gue jadilah tambah dobel-dobel. antara menyelesaikan masalah ini, dan (berusaha menjadi partner yang baik dengan) membantu ngeback up senior gue ini.

lalu kemudian, gue mendapati diri gue ditengah beberapa senior yang datang mendekat. awalnya cuman iseng sekedar nanya-nanya 'kenapa?' 
*sekedar info, orang-orang hanya melihat aneh ke gue yang biasanya pendiem, tiba-tiba terlibat pembicaraan yang lumayan serius dengan senior yang jarang gue ajak ngobrol*
tapi ujung-ujungnya ikutan nimbrung, ngajak sharing, ngasih masukan dan pertimbangan-pertimbangan lainnya.

setelah pembicaraan itu usai, gue mikir lagi dan langsung lega ketika mendapati bahwa mereka sedang mendukung gue dari belakang. setelah ngobrol-ngobrol santai, mereka membesarkan hati gue agar tidak selalu menyalahkan diri gue atas kesalahan yang belum tentu gue perbuat. 

hari esok punya kesusahannya sendiri, jadi selesaikan masalahmu hari ini secepatnya, agar kau bisa mempersiapkan yang terbaik untuk esok, dengan belajar dari kesalahan di hari ini. :)

 
dan tiba-tiba teringat perkataan seorang senior, "membantu orang untuk sukses tidak selalu dengan menyuapinya kan?" :)

Selasa, 04 September 2012

berat diotak, ternyata berat juga dikertas. mau gimana lagi...

hari baru cerita baru 
kalau telinga tertinggal di beberapa hari lalu, lalu bagaimana?
atau (sengaja) meninggalkan diri
sama seperti kalian (para wanita) yang harus menunaikan 8000 kata disetiap harinya, gue juga pengen bisa menunaikan hukum itu
se-introvert apapun gue, menurut gue itu sunah

tapi ketika informasi itu tidak sampai kepada objek yang dituju
kemudian, itu menjadi salah siapa?
haruskah gue tetap menjalankan sunah itu? tetap berceloteh tanpa ampun
atau mengabaikannya? menahan diri dan diam hanya agar tak lagi sakit hati


postingan kali ini memang berhubungan dengan bagaimana seharusnya gue bersikap.

selama lebih dari 18 tahun ini gue ngawang, menjalani hidup yang ngalir aja kayak sungai yang tak beriak, gapunya tujuan sama sekali (apalagi visi-misi), mau aja disuruh ini-itu tanpa mikir, kayak buaya gede ditengah sungai yang dikira bongkahan kayu mati.

lalu kemudian gue diajak mikir. mikir tentang apapun. mulai dari yang berat sampe yang berat banget. dari yang sekedar mikir sampe yang memiliki dampak ke banyak orang.

bahkan ngga cuman mikir tapi juga gerak. gerak yang awalnya disuruh-suruh, sampe gerak yang inisiatif, dan akhirnya gerak yang menyuruh-nyuruh.

*maaf yaa kalo tata bahasanya ngaco dan pada ngga ngerti bacanya


yah inti dari lusinan kata gajelas diatas adalah : gue lagi dapet pressure dari sekeliling gue,

dan satu-satunya hal yang terpikirkan adalah : membagi pressure itu ke orang agar gue mendapat pencerahan.

tapi, yang terjadi adalah : gue terlalu pemilih--siapa yang menjadi para pendengar gue. (mungkin karena trauma mendapatkan pendengar yang pernah gue percayai, tapi tak memegang teguh kepercayaan itu dan meremuk mredamkannya seketika).

lalu kemudian yang gue lakukan adalah : 
1. gak sabar untuk bercerita
akibatnya adalah : semua kata rebutan buat tumpah ruah, akhirnya ngomong gapake ngerem dan gasempet disaring.

2. belajar dari kesalahan
akibatnya adalah : mikir dulu sebelum ngomong, tapi apa yang dirasain gak kesampaian, akhirnya ttep aja ngga lega.

3. mencoba memperbaiki kesalahan
akibatnya adalah : jadi takut bercerita. semua di keep sendirian seakan-akan kapasitas otak masih sekosong ruang kelas saat liburan. 
dan ujung-ujungnya yang terjadi adalah : pembelajaran yang gue dapet stuck di gue. mati dan tak berkembang.

*bahkan di titik ini pun gue masi gangerti apa yang mau gue omongin


sepertinya yang gue pikirkan adalah, bagaimana jika gue membutuhkan telinga-telinga itu dan mulut mereka tetap tak mau memberikan feed-back yang gue butuhkan dan malah membuat gue down.

dan akhirnya postingan ini tak juga membuat gue lega, padahal menelurkannya saja membutuhkan waktu berjam-jam lamanya :')