Jumat, 13 Juli 2018

"Be Good.
... For everyone is fighting a battle you know nothing about."
- found this one on my friend's highlights instastory -

.
.
.

It's a reminder to me.
When i think that i know about someone, but i dont.
When i think that i understand their story, but i dont.
When i always think that i'm the most struggling person, but i'm not.

Yeah, be good.
We know nothing about anyone except what we see or hear.


But sometimes,
(like Maya Angelou said)
We are only as blind as we want to be. 

Rabu, 11 Juli 2018

Kadang,
meski kita tahu,
akan lebih mudah hidup dalam kepura-puraan
dan harapan semu

Setidaknya,
dalam pikiran,
masih ada alasan untuk bertahan,
meski membodohi diri


tak apa kan menunda sedih?

.
.
.
people only hear what they want to hear
people only see what they want to see
but sometimes, they are not ready for what really is

Jumat, 11 Mei 2018

Kamu akan jadi orang hebat, Lid. 
Aku yakin.

Jadi, untuk masalah kayak gini doang, kamu harus bisa bersabar.
Karena orang hebat juga ngalamin yang kayak gini gini.

Selasa, 01 Mei 2018

Ketika otak berkata baik-baik saja,
tapi hati berkata lain.

Kemudian masuk gua.

Lalu ku harus apa?

Senin, 23 April 2018

God is good. :)

Puji Tuhan!

Hari ini kusedang kalut.
Berbahagia, tapi takut.
Excited, tapi juga gamang.

Intinya, hanya ingin bersyukur sama Tuhan.
Dia menunjukkan bahwa kuasaNya jauh lebih besar ketimbang kekuatan manusia seberapapun liciknya.

Dia mengingatkan, bahwa ketika kita berserah, semua akan ditambahkan kepada kita.

Aku masih takut.
Tapi kuakan belajar untuk berserah :)

Sabtu, 10 Februari 2018

Dilanku 1990

Memutuskan menonton karena termakan rasa penasaran. 
Kemudian memutuskan kecewa, karena termakan ekspektasi.

Tadaa~


Semua orang punya Dilannya masing2. Punya bayangannya akan Dilannya sendiri.

Bagiku, Dilanku adalah sesosok anak SMA, menggunakan seragam biru, yang tak rapi dimasukkan celana dengan warna senada. Dilan yang cungkring dan jangkung. Dilan dengan senyum setengah tiangnya. Senyum tengil contempt dengan rasa yang bikin gregetan. Yang lebih sering nyengir ketimbang senyum manis.
Dilanku adalah dia yang cuek, tapi baik sama semua orang. Dilan yang bandel, tapi tetap respect sama guru-gurunya. Dilan yang bukan idola sekolahnya, tapi tetap punya pengagum rahasia. Yah, semua orang punya Dilannya masing2. Punya bayangan akan bagaimana sosok Dilan dalam "hidup" mereka. Yang jelas, Dilanku sudah pergi entah kemana. Terakhir hanya sempat kulihat punggungnya di balik pagar rumah, tanpa sempat mengucap selamat tinggal. Dan tak pernah bertemu sejak 7 tahun lamanya. Dilan 2011.

---

Setiap orang juga punya rasanya masing2 setelah menonton film ini. Aftertastenya berbeda buat tiap pribadi, tergantung memori apa yang paling kuat ditarik kembali oleh penggalan pengalaman sederhana dalam film ini.
Aftertaste ku sedih. Entah kenapa, entah apa. Lagi2, seperti merasa depresi setelah merasakan manic. Tapi bukan karena filmnya sendiri. Karena memori yang terpanggil mungkin memori yang menyedihkan, memori yang sudah kadaluarsa dan tak bisa diulang.

---

Film ini menyenangkan memang. Menyadarkan bahwa pada tahun 1990, muda mudi bisa senang hanya karena disapa selamat pagi oleh orang yang belum dikenal. Muda mudi bisa cengengesan sendiri karena dapat TTS yang sudah terisi. Dan muda mudi bisa berbunga2 karena dapat telpon (hampir) tiap malam. Yang jelas sih ngga ada adegan rebutan "kamu duluan yang tutup telponnya".

Mungkin bagi para generasi X, mereka akan merasakan nostalgia saat menonton film ini. Bersyukur karena mereka masih familiar dengan cara pedekate yang sesederhana itu. Bersyukur karena saat itu, ngga semua cewe harus didekati bermodal mobil mentereng dan barang2 branded.

Mungkin bagi para millenials, mereka senyum2 hebring sendiri karena gemes sama cowo tengil kayak Dilan, yang jarang ditemui pada masa2 seperti ini. Lalu, mungkin habis ini, akan tiba masanya, kepuasan hubungan mereka menurun, dan mereka menuntut pasangan masing2 untuk jadi seromantis Dilan.

---

Oke, mari kita mulai review filmnya. Yang di atas tadi baru pemanasan 😜

Filmnya buatku mengajarkan bahwa kita bisa bilang sesuatu dengan jujur tanpa embel2 malu, negative thinking, atau modus, atau baper, atau apalah-itu-yang-sebenarnya-normal-tapi-jadi-aneh-karena-capnya-netizen.

Senang itu sesederhana dapat telpon dari dia.
Khawatir itu sesederhana gabisa nemuin dia pada saat jam istirahat.
Marah itu sesederhana ketika kita dikatain sama pacar sendiri.
Dan cemburu... Sesederhana melihat dia jalan sama orang lain.
Tapi mematahkan gengsi, sesederhana "aku minta maaf, aku sudah ingkar janji".
Dan memaafkan sesederhana kata "Iya".


Gue rasa, udah cukup dari segi storynya. Karena sejauh ini, cerita dalam filmnya memang persis sama dengan cerita dalam bukunya. Dan gue suka bukunya. Meski untuk beberapa part, ada hal-hal yang ngga sesuai sama apa yang kuingat. Atau setidaknya, aku mengingatnya tidak begitu. Tapi mungkin, karena perkara durasi, maka film ini harus di cut sana sini agar lebih padat. Tapi setidaknya, Fajar Bustomi dan Pidi Baiq berhasil membuat film ini sama rasanya dengan Dilan 1990.

Sekarang mari bahas film ini dari segi sinematografinya.

Ada hal-hal yang membuatku merasa asing dengan Bandung di tahun 1990. Meski agak sok bagiku menilai Bandung di tahun segitu, padahal menjadi anak Bandung (CORET) saja bisa dihitung 1 tangan.

Aku baru tau suasana di Bandung bisa se modern itu. Bandung disulap menjadi seperti Jakarta. Dengan gaya yang lebih maju, dan stylish. No offense, bukan maksudnya tahun 1990 tidak boleh gaya, tapi sepertinya beda aja gitu trend saat itu. Tapi bolehlah, bisa mengosongkan jalanan di Braga dan ITB sebegitu lempengnya, padahal sekarang Bandung teh sudah macetos banget. Super duper luar biasa juga karena bisa mengundang RK untuk hadir jadi cameo di film tersebut. *Keprok keprok*


Dari segi cast, menurutku terlepas dari acting mereka, Dilan dan Milea memang sudah memiliki chemistry yang cukup oke. Mereka bisa memainkan sepasang muda-mudi kasmaran yang tidak kurang dan tidak lebih. Mereka bisa membagikan keceriaan dan rasa bahagia ke penonton. Namun, emosi marah, sedih dan kaget adalah emosi-emosi yang sangat susah untuk ditampilkan. Sehingga kadang, rasanya ngawang dan jadi ngga nyampe ke gue. Jadinya ada yang patah dari cerita itu. 

Yhaa, intinya ceritanya sukses membuat gue cengengesan sendiri. Tapi memang gue kecewa akan ekspektasi gue sendiri.

Harusnya, film ini bisa jauh lebih bagus lagi... :)


                                                                                              #OneFilmADay(OrMore)

Kamis, 25 Januari 2018

Bergemuruh

Biasanya yang dadakan itu selalu jadi.
Berbekal ajakan, "Lid, nonton yuk!", lalu mengajak beberapa orang untuk menonton film di jam terakhir malam itu, lalu jadilah...



Responnya? 

Nobody told me kalo film ini adalah drama musikal. Kirain mah ya film drama kehidupan biasa. Makanya beberapa menit pertama amazed karena “drama kehidupan” kok ya detil amat sama music and dance nya. Terkesima sesaat sama detil transisi setiap scene yang continuity-nya dapet banget.


Dan suara castnya bikin meleleh!
Beberapa minggu ini ngikutin sebuah reality show ajang pencarian bakat di Indonesia, yang mana setiap juri selalu mengingatkan finalisnya bahwa mereka harus bernyanyi dari hati. Mereka harus menyampaikan rasa dengan tulus. Mereka harus menyanyikan lagu dengan penuh emosi. Awalnya ndak ngerti sih kenapa para juri sangat fokus ke hal itu. Toh menurut gue, mereka mah nyanyi udah bagus-bagus kok suaranya. (Ini beneran, bukan karena gue nggabisa nyanyi haha)  Lalu, setelah nonton film ini, baru deh gue ngerti apa maksudnya. HAHAHA

Ngga semua lagu awalnya gue ngerti apa arti liriknya. Tapi mah maksudnya tetep nyampe kok ke gue, karena dibawakan dengan penuh “rasa”. 

Salam zuper buat koreografer dance dan yang ngaransemen musiknya. Luar biasa. Mereka bener-bener mikirin the whole film sebagai sebuah kesatuan tim, bukan tim yang berdiri sendiri dan pengen nonjolin ke-khas-an timnya masing-masing. Ibarat kata teori nih, mereka pake teori Gestalt buat bikin film ini. Haha Mereka bisa menyatukan semua hal dalam hidup, menjadi sebuah dentuman melodi. Mulai dari ketukan palu, hentakan kaki, bahkan sampai gesekan kursi dan gelas. Perfecto!


“Lupakan kurungan, karena kami tahu cara membuat kuncinya.”


Gue yang awalnya mengira film ini mengenai drama kehidupan, merasa sedikit kecewa dengan alur ceritanya yang terlihat “sangat mudah”. Alur ceritanya seperti ada yang kurang lengkap, dan kurang detil di beberapa cerita yang sebenarnya menjadi inti rasa dari film ini. Entah karena memang mereka terlalu detil pada musik dan koreo, sehingga jadi kedodoran di bagian alur cerita; atau memang karena durasi, sehingga mereka terpaksa memotong beberapa scene (bahkan juga yang termasuk scene kunci dalam film ini).

Tapi, nggapapa. Menurut gue, hutang itu masih bisa dibayar dengan “rasa” yang disampaikan melalui lirik lagu dan gerakan tubuh para pemainnya.

Melalui film ini, gue belajar bahwa hidup kita adalah musik, jadi... dibawa asik ajeee~ haha Kagak deng. Gue jadi diingatkan kembali sihh bahwa mimpi-mimpi yang gue punya selama ini, harus mulai gue lihat kembali dan kembangkan. Gue harus bisa belajar menghidupi mimpi gue. Karena, kalo kata P.T. Barnum, 

“Satu-satunya yang membatasi seseorang hanyalah imajinasinya”.


Bahkan beberapa minggu setelah menonton filmnya, "emosi"nya masih terasa. Emosi yang gue rasakan dari scene pertama Hugh Jackman bernyanyi. Bahkan dari pementasan pertama, sang director berhasil mempermainkan emosi gue. Sesuatu yang terasa too much, too good to be true, kemudian hening dan hampa. Gamang. Kayak abis ngerasain manic, tapi lalu jadi depresi.


Saking sukanya sama film ini, gue liatin channel-channel youtube yang mengulas cerita-cerita tentang mereka. Gue salut karena mereka bahkan melakukan latihan sekitar 3 bulan sebelum mereka syuting. Memastikan bahwa setiap scenenya dan koreonya terpahami dengan baik. Bahkan emosi tersebut sudah muncul dari saat mereka latihan !!

Ah, gue kurang pintar berkata-kata. Bahkan setelah menulis sepanjang ini aja gue masih belum bisa menyampaikan maksud gue dengan baik. Intinya nonton sendiri ajadahh. 

Kalo kata Hugh Jackman dalam sebuah interview di kanal Youtube YAAAS TV, “ ... Please go and see THE GREATEST SHOWMAN and i think you will find it is uplifting, it will open your heart, it will make you smile, it will make you sing, but ultimately, it will make you celebrate humanity in your life. Please go and enjoy ;)”


                                                                                                    #OneFilmADay(OrMore)