beberapa hari ini gue lagi suka dengerin lagunya Tulus yang "Sudah Sewindu"
suka aja dengerin melodinya.
tapi sebenernya, postingan gue kali ini bukan tentang sewindu, tapi setahun.
Hari ini, setahun yang lalu, adalah hari yang sangat menyedihkan.
Hari dimana ketika gue bangun pagi, dan pertama kali tangan gue dengan otomatis mengambil HP.
mungkin hanya sekedar mengecek jam, karena tepat di hari ini, setahun yang lalu, gue harusnya mengikuti UTS antropologi dan Psium; dan gue belum belajar.
tapi hari ini, setahun yang lalu, hari gue diawali dengan tangis terisak yang gue pun bingung antara lemes mau histeris atau mencoba menenangkan diri dengan menutup mulut pake selimut.
gimana enggak, nanti seisi kosan gue malah kaget ngira gue kenapa-napa. -..-
gue udah lupa waktu itu gue sempet buka buku lagi ato enggak sebelum berangkat ke kampus.
yang jelas, gue sempet buka twitter dan facebook hanya untuk mengecek kebenaran kabar yang gue terima.
terus pas sampe di kampus dengan baju hitam, gue berusaha nahan-nahan lagi biar ngga nangis.
bisa sih, bisa. cuman bawaannya jadi kayak orang yang udah ngga punya nyawa lagi.
bengong doang gitu. haha
terus ketemu sama Bella, Ipi, Dara, nangis lagi.
udah tenang, ketemu sama Aul sama Sinta, nangis lagi.
belernya kemana-mana deh pokoknya.
kalo diinget-inget lagi, waktu ijin ke dosen biar bisa ikut UTS susulan tuh mudah banget deh.
gimana enggak kalo mereka liat yang dateng muka-muka yang beler gitu. haha
terus sepanjang jalan, nyenderan aja dengan kepala pusing.
berusaha menikmati jalanan di Garut yang indahnya banget-banget.
minus macetnya tentu aja.
yah, tapi itukan setahun yang lalu.
sekarang, gue lagi nugas PST, sambil (harusnya) belajar rorschach soalnya besok ada UTS.
tapi gue malah dengerin lagu-lagunya Tulus sambil nge-blog.
-_-
Rabu, 30 Oktober 2013
belajar berdoa
menyedihkan, ketika seorang anak kecil yang belum tahu apa-apa tentang hidupnya,
memiliki doa seperti ini :
sedangkan orang dewasa yang sudah mengerti kebaikan Tuhan,
dapat menalar dan menarik pelajaran dari setiap hidupnya, malah berdoa seperti ini :
memiliki doa seperti ini :
"Tuhan, terimakasih untuk hari ini.
terimakasih untuk keluargaku,
dan terimakasih untuk makanan ini.
Amin."
sedangkan orang dewasa yang sudah mengerti kebaikan Tuhan,
dapat menalar dan menarik pelajaran dari setiap hidupnya, malah berdoa seperti ini :
"Tuhan, terimakasih atas penyertaanMu.
tolong ini, tolong itu,
Sertai aku blablabla,
berkati aku blablabla,
jagai blablabla..."
dan masih banyak permintaan lainnya.
jatuh cinta padaNya :)
Tuhan membuatku jatuh cinta berkali-kali.
Jatuh cinta sama semesta dan semua hadiah-hadiah kecil dariNya,
yang memastikan senyum ini tak pernah pudar, dan hati ini tak pernah sendu ({}) :)
seperti ketika Ia akhirnya memberi jalan keluar di detik-detik terakhir.
yang menegaskan bahwa Ia tak pernah terlambat.
seperti ketika Ia tetap membantu, bahkan ketika aku lupa untuk meminta tolong.
seperti ketika Ia dapat menenangkan disaat semua yang ada dikepala adalah keribetan.
atau penghiburan saat yang ada hanyalah kesedihan.
seperti ketika Ia memberi semangat saat yang ada hanyalah kelesuan.
sampai saat ini, aku bersyukur.
akan hidupku di hari ini.
akan semua yang terjadi padaku, hingga saat ini.
lalu, kapan gue bisa pulang?
Kalian anak perantauan?
Pernahkah kalian merasa, jauh dari keluarga itu menyedihkan?
Satu-satunya yang bisa kalian gantungi hanyalah temen kosan, atau temen clique.
Terus kalo tiba-tiba kalian berantem, ya sedihnya gak bisa curhat sama siapa-siapa lagi.
Keluarga kalian kan tidak tahu kondisi di tempat kalian kuliah.
haha
***
Beberapa hari ini, gue sedang homesick.
Gak parah-parah banget sih, tapi cukup untuk bikin gue cerita terus tentang keluarga.
Jadi ceritanya, terakhir gue balik kerumah adalah di bulan Agustus akhir.
Dan rencananya, gue baru bisa balik akhir bulan November atau awal bulan Desember.
Dimana hal itu menjadi tambah mustahil melihat kesibukan gue sebagai panitia natal kampus.
Juga jadwal akademik fakultas yang tidak ada tanggal minggu tenangnya.
Ditambah orang tua dan kakak gue sering menanyakan "kapan akan pulang?"
Jadi, kapan gue baliiiik?
*tuhkan, jadi cerita lagi -.-
Senin, 28 Oktober 2013
#OneFilmADay(OrMore)

udah lama gue disuruh nonton film ini.
judulnya "you are the apple of my eye"
katanya bagus, dan filmnya sedih gitu. :(
jadi beberapa hari yang lalu, setelah meminta memaksa Siddhi untuk mendownload filmnya,
gue, Siddhi dan Aul akhirnya berkesempatan menonton filmnya.
dari awal gue udah siap-siap memikirkan hal-hal yang buruk biar nanti ngga kaget dan tau-tau nangis.
soalnya emang katanya filmnya sedih.
tapi ternyata, meski sudah diduga dan dinyana kalo filmnya sedih,
tetap aja air mata tuh netes gitu abis nonton filmnya.
emang dewa banget deh ceritanya :')
rasa sayang memang tak hanya dipikirkan, tapi juga dirasakan ...
#OneFilmADay(OrMore)
#OneFilmADay(OrMore)
"Tuhan, Engkaulah jalan keselamatan dan hidup.
kalau Engkau dapat menyelamatkan hidup kami tanpa membuat kami terluka, kenapa Engkau memilih jalan ini? jalan yang meninggalkan bekas luka terhadap kami?"
"bekas luka itulah yang akan selalu mengingatkan kalian akan keselamatan yang telah Kuberikan. kalau tidak ada bekas luka itu, apa kalian akan mengingat dengan jelas kebaikanKu?

kemaren malem, disaat semua orang sedang belajar untuk UTS Psikologi Abnormal hari ini, gue sedang ada PA (mentoring) dan salah satu agendanya menonton film The Encounter.
awalnya filmnya berasa serem serem gimanaa gitu.
cuman ternyata ngga ada serem-seremnya.
Mereka bilang filmnya sedih.
bahkan mereka sampai menangis menonton film tersebut.
Bagi gue, filmnya sangat mengetuk.
gue ngga ngerasain sedih ato apapun, tapi tiba-tiba pipi gue udah basah aja.
ngga nangis sesenggukan sih, cuman emang agak tersentuh aja.
gue ngerasain satu dua kisah yang sama seperti kisah gue.
ya, dan mungkin ini cara Tuhan ngingetin gue.
satu lagi yang membuat gue takjub.
cerita tersebut hanya terdiri dari dua lokasi syuting.
waktunya pun tidak lebih dari dua jam.
namun, cerita yang disajikan sangatlah mengetuk hati.
coba aja ditonton. ;)
#OneFilmADay(OrMore)
Sabtu, 26 Oktober 2013
jingga dan sang mentari
Semburat jingga.
Senjaku menanti.
Memudar.
Menunggu, kapan aku akan kembali.
Bertemu hitam malam dengan segala kerlap kerlipnya.
Aku menanti.
Ragaku mati.
Dan pikirku melayang ke waktu nanti.
Kapan disaat aku bisa bebas berlari.
Mengatur waktu datang dan pergi.
Kapan?
Jinggaku mulai merona merah.
Menampakkan sedikit ungu kebiruan, tanda kesal.
Dan doaku terjawab.
Bulan mulai datang menghantarkan kepergian sang mentari.
Ya, ada datang. Dan ada pergi.
Bulan, jangan lupa menjemput kedatanganku.
Aku belum mau pergi dan tak kembali.
Langganan:
Postingan (Atom)