Jumat, 12 September 2014

S.O.R.R.Y

Merespon tugas selanjutnya yang diberikan pada saat kelas Analisis Eksistensial, saya akhirnya memberanikan diri untuk meminta maaf.

Teruntuk semua orang yang pernah tersakiti atas tingkah laku saya, baik disadari maupun tidak disadari.
Saya minta maaf.
Saya tau ini tidak cukup, tapi saya tetap ingin mengatakannya.

Saya minta maaf.

Kamis, 11 September 2014

:')


Lelah menangisi semua yang telah pergi.
Hari ini seperti disentil kembali, bahwa kini saatnya mengambil alih posisi mereka.

Semua akan datang dan pergi.
Dan sebelum pergi, apa yang bisa kamu lakukan?
Buat mereka merindumu setengah mati ketika kamu pergi nanti.

Caranya adalah dengan membuat mereka menyayangimu karena semua usaha yang kamu lakukan untuk mereka.
Memberi dengan tulus, dengan harap yang nanti bisa menjadi lebih baik dari yang dulu.

...

Merindumu, meremukkan tulangku.
Menantimu, membuang usiaku.
Mengharapmu, mematikan semangatku.
Menyayangimu, menghabiskan tenagaku.

Tapi, aku (pernah) sayang kamu.
Masih? entah!

di tempat yang sama

Aku disini, ditempat ini
Tempat yang sama dengan beberapa tahun silam
Memandang lurus kepojok sana.

Berharap bayangmu masih melekat, meski telah lama hilang.
Berharap wajahmu masih terpatri kuat di benakku, yang kini sudah ditutupi oleh awan-awan putih.

Aku tak ingat bagaimana bentuk senyummu.
Aku pun tak lagi ingat suara tawa renyahmu.
Yang kuingat hanya bagaimana hangatnya hampir setiap pertemuan kita.

LOVE LETTER

Aku menyukaimu.
Aku suka ketika kamu mengernyitkan muka, membuat 'muka jelek' hanya untuk membuatku tersenyum.
Aku senang ketika kamu memukul kepalaku tanda sayang.
Sembari mengelusnya perlahan.

Aku sayang kamu.
Kamu tahu apa yang harus dilakukan saat menghadapiku yang emosional ini.

Ketika aku sedang merasa sangat sedih, kamu membuatku merasa bodoh.
Bodoh, bersedih atas hal yang sebenarnya tidak perlu dipikirkan.

Ketika aku sedang senang, kamu ikut tersenyum.
Mengalikan rasa senangku menjadi semakin membuncah.

Aku senang ada kamu disana.
Di tempat yang selalu sama, membuatku ingin berulang kali menghampiri.


***
Minggu lalu, aku menghadiri sebuah kelas analisis eksistensial, yang menyarankan seluruh pesertanya untuk lebih menghargai rasa sayang, dan mengungkapkannya melalui kata.

Kala itu, aku masih berpikir...
Sayang memang tidak perlu memiliki.
Kehadirannya cukup untuk dirasakan. Bentuknya cukup diberikan.
Asal saja aku tersenyum, mungkin itu cukup bagimu.

Namun, sebersit rasa sedih mulai muncul.
Tidak memilikimu, sama artinya membuang rasa sayang ini kesembarang arah.
Tidak perlu tahu tepat sasaran atau tidak, yang penting aku bisa memberikannya.

Tidak memilikimu, membuat hatiku sakit.
Bahwa aku hanya bisa memberi tanpa mendapat balasan sayangmu.

Tapi sudahlah, mungkin hanya karena rasa ini semu.
Aku tak berani meyakinkan diriku.
Apakah aku layak?

Kamis, 04 September 2014

New Project !!

Seorang kakak mengatakan bahwa gue (dan teman gue) harus lebih mengasihi diri sendiri 
(terlebih sebelum memutuskan untuk mengasihi orang lain)!

Teman gue akhirnya membuat proyek kesenangan.
Proyek dimana beliau melakukan hal-hal yang menyenangkan untuk memberi reward diri.


Gue sepertinya memutuskan untuk membuat proyek yang serupa tapi tak sama.
Proyek ini gue beri nama proyek keberanian.

Setiap minggu, gue akan melakukan satu hal berbeda diluar rutinitas gue, atau bahkan hal baru yang belum pernah gue lakukan sama sekali.
Mungkin dimulai hari ini, ketika gue memutuskan untuk mengiyakan ajakan Aul untuk menghadiri gathering sebuah komunitas yang baru bagi gue.

Di pertemuan hari ini, gue menemui sekumpulan manusia heterogen yang memiliki minat sama, yaitu blogging.
Agak lelah memang beradaptasi hanya dalam 2 jam, namun komunitas tersebut sangat terbuka dan menerima kehadiran kami, anggota baru.

Gue juga akhirnya bisa menyambangi Braga, yang baru pertama kali gue datangi, meski namanya sudah beratus kali gue dengar.


Semoga minggu depan ada tantangan baru yang bisa gue ceritakan :)

Rabu, 03 September 2014

...

- Pertengahan 2012 -

aku ingin menjadi seperti beliau!
aktif diberbagai kegiatan, bisa ini itu, kritis, tapi supel dan peduli.


- Pertengahan 2014 - 

mereka memang role model yang baik dan menginspirasi.
tapi, kenapa tidak memilih untuk menjadi lebih dari mereka?